Salam

Terimakasih atas kesediaanya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semoga memberi manfaat. Keselamatan, kesejahteraan dan berkah Tuhan semoga senantiasa melingkupi kita semua. Mari menikmati hidup ini...
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2015

Memperdaya Ibadah

Seandainya saja ketakwaan seseorang bisa diukur dengan banyaknya buku agama yang dibaca, pengetahuan tentang keagamaan yang dikuasai, mungkin saya bisa termasuk orang yang takwa. Tetapi tidak! Ketakwaan itu masalah amal ibadah. Setinggi apapun pengetahuan agama kita, namun jika nihil amal ibadah, maka akan sia-sia. Baik itu amal individu maupun amal sosial.

Kebanyakan dari  kita menjadi sangat ahli dalam membicarakan tentang kebaikan. Tetapi untuk melakukannya, kita awam. Kalau toh kita bisa beramal, maka itu alhamdulillah. Namun, amal juga bukan sekedar amal. Ia menuntut kemurnian niat hati untuk mendapatkan rida Ilahi.

Dikisahkan, seorang murid dari Manshur ibn Ammar, terbaring sakit. Murid itu dikenal sebagai ahli ibadah, shalat malam, juga gemar bersedekah. Sang guru menjenguknya. Ia mendapati muridnya terbaring di tengah rumah. Wajahnya menghitam, kedua matanya membiru, bibirnya mengeras, dan tidak nampak sebagai orang yang saleh yang biasanya raut mukanya bercahaya.

Manshur berkata,”Saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.” Sang murid membuka mata dan memandang dengan sinis, lalu pingsan. Saat siuman, Manshur berkata lagi, “Wahai saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.” Muridnya kembali memandang dengan sinis, lalu pingsan. Saat dia sadar, Manshur berkata lagi, “wahai saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.”

Muridnya membuka mata dan berkata, “Wahai saudaraku, Manshur! Aku terhalang untuk mengucapkan kalimat tersebut.”

“Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah. Di manakah puasa, bangun malam, shalat, dan tahajudmu?”

“Semua itu, kulakukan bukan untuk mencari rida Allah, melainkan agar aku disebut orang zuhud, ahli ibadah, atau orang yang saleh. Ketika sendirian, kututup pintu, kuturunkan tabir, kemudian kuminum arak dan melawan Tuhanku dengan kemaksiatan. Aku melakukan hal tersebut hingga sekian lama  hingga terkena penyakit berat dan hampir binasa. Suatu saat aku berkata pada putraku, ‘Tolong ambilkan mushaf!' kuambil mushaf dari tangan anakku dan kubaca huruf-demi huruf hingga surah Yasin. Kemudian mushaf kuangkat sambil mengatakan, ’Ya Allah! Dengan kebenaran al Quran agung ini, sembuhkanlah aku dan aku tidak akan pernah melakukan dosa lagi'. Allah pun menyembuhkanku. Setelah sembuh, ternyata aku melakukan kemaksiatan seperti sedia kala dan tenggelam dalam kelezatan serta riya. Setan telah membuatku lupa akan janjiku terhadap Tuhanku. Hal itu berlangsung beberapa waktu. Tak lama kemudian, aku sakit keras hingga hampir mati. Lantas aku meminta keluargaku membaringkanku di tengah rumah. Mereka menyodorkan al Quran lalu aku membacanya dan mengangkatnya seraya mengatakan, ‘Ya Allah! Demi kehormatan firmanMu yang ada dalam al Quran sembuhkanlah aku.’

“Allah mengabulkan doaku dan menyembuhkanku. Lalu aku kembali terjerumus dalam kesesatan dan godaan hawa nafsu seperti sebelumnya. Ketika jatuh sakit lagi, aku kembali meminta mushaf untuk dibaca, namun tak satu huruf pun bisa ku baca. Aku tahu bahwa Allah telah murka. Aku menengadahkan kepala ke langit sambil berkata, ‘Wahai pencipta langit dan bumi! Demi kehormatan mushaf ini sembuhkanlah aku'. Tiba-tiba aku mendengar suara mengatakan:

Engkau tobat saat jatuh sakit. Namun kembali melakukan kemaksiatan saat sembuh. Saat bahaya menimpamu, engkaupun menangis. Namun saat kuat, engkau menjadi lebih buruk.

Banyak kesulitan yang dibebaskan darimu. Berapa banyak bencana yang telah dihilangkan darimu? Berapa banyak dosa yang ditutupi darimu? Namun sepanjang hari kau mempertontonkannya.

Tidakkah engkau takut ketika kematian tiba,engkau melakukan-melakukan kesalahan? Engkau lupa akan karunia Tuhan yang telah mencurahkan karunia kepadamu. Namun engkau tidak pernah menyesal dan takut.

Tidak sedikit engkau berjanji dan mengingkarinya. Dan engkau pun lupa setiap kebaikan. Susullah sebelum engkau dipindahkan dari tempat tinggalmu. Menuju kuburan yang memanggilmu.

Sang guru keluar meninggalkan muridnya dengan membawa berbagai pelajaran yang memenuhi mata. Ia berkata, “Ya Allah! Anugerahkanlah aku husnul khatimah. Berapa banyak jiwa yang diperdaya, padahal sebelumnya berpuasa dan bangun malam.”

Beberapa hari kemudian, muridnya meninggal dunia. Manshur masih berduka dan memohon kepada Allah agar murindanya mendapatkan limpahan ampunan dan rahmat yang luas.

Kita sering terperdaya atau memperdaya ibadah kita. Bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena sebab lain. Dan itu akan lebih merugikan diri kita sendiri.
--
Ramadhan ke-6
Selasa, 23 Juni 2015
Ahmad Shobirin Obiyoso

Jumat, 19 Juni 2015

Berteman dengan Tuhan

Lumayan. Itu penilaian puasa Ramadhan hari kedua. Lebih menjiwai dari pada kemarin.

Kalau iman lemah, hal-hal yang sebenarnya remeh bisa jadi alasan untuk meninggalkan ibadah. Kenapa ndak puasa? Waduh ndak sahur. Kenapa ndak sholat? Pakaianku najis. Dan lain lain.
Padahal ada nikmat yang luar biasa manakala muncul pertumbuhan spiritual.

Siraman air sejuk Tuhan akan mengalir ke hati kita, jika hati merendah. Kita semestinya selalu terhubung dengan Tuhan. Sebab, keterputusan hubungan dengan Tuhan akan membuat hati kita, layu.

Dunia begitu ramai. Pikiran-pikiran kita silih berganti. Hati dihinggapi kecemasan yang selalu datang. Hingga kita mungkin sulit untuk menyediakan ruang suwung agar air sejuk Tuhan masuk. Ruang agar kita bisa duduk tenang diterangi cahayaNya yang menyegarkan hati.

Tuhan selalu menemani.

Dikisahkan, Ibrahim bin Adham gemar menyepi dan menyendiri. Ia ditanya mengapa ia tidak bergaul dengan orang-orang. Mungkin kalau sekarang, mengapa ia tak sempat sekedar ngopi di warkop.

Lalu beliau menjawab, "Kalau aku berteman dengan orang-orang yang ada di bawahku, ia akan menyakitiku dengan kebodohannya. Jika aku berteman dengan orang yang ada di atasku, niscaya ia akan menyakitiku dengan bualannya. Jika aku berteman degan orang yang sepertiku, niscaya ia akan dengki. Karena itu, kutemani Tuhanku. Tidak ada kejemuan jika bersahabat denganNya. Tidak akan terputus jika terhubung denganNya. Tidak akan terasing jika akrab bersamaNya."

~
Jumat 19 Juni 2015
Ramadhan ke-2
Ahmad Shobirin Obiyoso

Kamis, 18 Juni 2015

Berpikir Sederhana

Seringkali kita berpikir rumit. Mengandalkan emosi dan prasangka. Padahal harusnya bisa simpel. Seperti dalam sebuah kisah berikut:

Bersama para pengawalnya--kalau sekarang ajudan atau paspampres--Khalifah Harun al Rasyid meninjau langsung rakyatnya pada malam hari. Khalifah memasuki masjid dan tanpa sengaja, karena suasananya begitu gelap, menabrak orang yang sedang tidur. Orang itu terbangun dan menghardik Khalifah, "Apa kamu gila?!"

"Tidak," jawab Khalifah.

Para pengawalnya hendak memukul orang itu karena berlaku tidak sopan, namun dicegah Khalifah.

"Jangan! Jangan! Dia hanya bertanya apakah saya sedang gila. Dan sudah saya jawab tidak."

#catatanramadhan

Sabtu, 21 Maret 2015

Sepi, tapi Tak Kesepian

Pernah kesepian? Ah kasihan sekali. Karena itu, sengajalah menyepikan diri. Nyepi. Ia bentuk kata kerja aktif. Yang bisa berarti meninggalkan keramaian. Dan karena ditinggal, keramaian menjadi merasa kesepian. Kasihan keramaian. Sebaliknya, jika kau kesepian, kamu bersikap pasif. Keramaian meninggalkanmu. Itu ndak keren. Kita tahu rasanya sakitnya di abaikan. Di sini kan sakitnya??! (jangan lupa tunjuk dada)

“Kesepian mengungkapkan kepedihan hati karena kesendirian”, Kata Paul Tillich “Dan menyendiri mengungkapkan kesenangan kesendirian kita”

Mungkin saat ini kita masih merasa muda. Sehingga jarang dihinggapi kesepian. Namun, kata orang-orang, bahwa nanti semasa tua, kita akan akrab dengan kesepian itu. karena itu, kita harus punya cara agar tak kesepian. Aku ingat sebuah kisah Paulo Coelho di bukunya “Seperti Sungai yang Mengalir”.

Ada perempuan tua berdiri di area untuk pejalan kaki di Avanida Atlantica Copacabana (tentu saya belum pernah ke sana). Ia membawa sebuah gitar dan ajakan yang ditulis tangan “Mari bernyanyi bersama-sama.” 

Dia mulai memetik gitarnya sendirian, kemudian datanglah seorang pemabuk, dan seorang perempuan lainnya, lalu kedua orang itu mulai menyanyi bersama. Tak lama kemudian, sejumlah orang ikut bernyayi, dan sekelompok kecil orang-orang lainnya menjadi penonton. Mereka yang menonton bertepuk tangan setiap kali sebuah lagu selesai dinyanyikan.

“Kenapa Anda melakukan ini?” tanya Paulo pada perempuan itu ketika jeda di antara dua lagu.

“Supaya tidak sendirian,” Jawabnya. “Hidup saya sangat sepi, seperti yang dialami hampir semua orang yang sudah tua.” Lanjutnya. 

“Seandainya saja setiap orang menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cara seperti  ini” Pikir Paulo.

Maka, jika kau kesepian, saran saya, berdirilah di tengah perempatan jalan raya, lalu bernyanyi-nyanyilah. Yakin! kau tak kan kesepian.   

| @pakguruobi

Jumat, 20 Maret 2015

Bertemu Babonnya Setan

Jangan tidur dulu, saya mau cerita. Ceritanya menarik. Kalau ndak menarik, boleh tidur dulu. karena itu baca sampai tuntas, lalu simpulin menarik atau tidak.

Begini ceritanya. Ada seorang penceramah yang pada suatu pertemuan di masjid ia berkata, “Apabila seseorang bermaksud bersedekah, 70 setan akan datang. Mereka akan bergelantungan pada tangan dan kakinya, untuk merintanginya bersedekah.” Ketika mendengarini, seseorang di antara hadirin berkata, “Akan kuperangi 70 setan itu.”

Dengan sebuah tekad yang kuat, ia keluar dari masjid untuk kembali ke rumahnya dan mengisi kantong kainnya dengan gandum. Ia bertekad untuk menyedekahkan gandum itu. Kemudian, istrinya datang, mengajaknya bertengkar, dan melawannya hingga gandum itu berceceran. Laki-laki itu kembali ke masjid dengan tangan hampa. Penceramah bertanya, “Apa yang telah anda lakukan?” Ia menjawab, “Saya berhasil mengalahkan 70 setan. Tetapi induknya datang. Ia berhasil mengalahkanku”.

Begitu ceritanya. Menarik? Lanjutkan membaca! Jika tidak, tidurlah.

Cerita itu diriwayatkan oleh Al-Fakhr al-Razi yang di kutip oleh Jalaluddin Rahmat dalam bukunya “Quranic Wisdom”. Mungkin peristiwa itu cuma parodi. Namun, beliau ingin menegaskan bahwa ada dua macam setan. Yang tampak dan yang ngumpet. Mana yang lebih berat dilawan? Bisa dua-duanya, bisa salah satunya. Kalau dari cerita di atas yang lebih berat dilawan itu yang tampak. Ia bisa menjelma menjadi istri/suami, anak-anak, kawan sekantor, atau tetangga. Dan kekuatan mereka bisa jadi 70 kali lebih besar dari yang ngumpet. Hehe.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Yang lebih sulit dilawan itu setan yang ngumpet. Musuh yang batin. Kalau setan yang tampak atau musuh lahir, biasanya berkenaan dengan harta dunia. Kalau yang batin menyangkut keyakinan kita. Kalau setan yang tampak bisa menyerang kita di rumah, tempat kerja, di jalan-jalan, atau di medan tempur. Kalau kita melawannya dan menang, kita dapat pahala dan jika mati dalam perlawanan itu, kita mati syahid. Sedangkan mush batin itu menyerbu langsung ke hati kita. Dan hati itu lebih luas daripada langit dan bumi. Maka melawan setan batin jauh lebih dahsyat dari pada perang lahir. Lha kalau musuh batin itu mengalahkan kita. Celaka duabelaslah kita. Matinya mati sangit. Modiar.

Karena itu melawan musuh batin itu bisa disebut jihad akbar. Bukan Jodha Akbar. Trus gimana mengatasinya?  Jangan ke pegadaian, meski ia bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Lalu kemana? Ke Allah dong! Wiez guaya.

Begini, Hati itu, adalah taman Tuhan yang ada dalam diri manusia. Orang yang lemah menjadi kuat jika ia masuk ke dalam perlindungan Raja Yang Perkasa. Masuklah dalam perlindungan-Nya sehingga engkau sanggup mengeluarkan setan dari taman hatimu. Ucapkanlah isti’adzah dengan kemantapan hati.

A’udzubillahi minasy syaithonirrojiim… (Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk)
Syukur alhamdulillah, setelah membaca ini syetannya langsung ngantuk. Hoaaahmm…

| @pakguruobi

Sabtu, 01 November 2014

Kisah Di Warkop Buku (1)

Mbah Bejo datang. Ia mengunjungi Warkop Buku. Warkop baru. Tempat untuk singgah minum kopi, duduk dan membaca buku, atau menulis.

Aku menghentikan aktifitasku, berdiri, tersenyum dan salaman dengan mencium punggung tangannya. Beliau cepat menarik tangannya dan segera duduk dihadapanku.

“Sedang apa kamu?”

“Ini, lagi nulis-nulis mbah?”

“Apa yang kamu tulis?”

"..........”

Aku terdiam. Beliau juga diam sebentar lalu berkata berkata tanpa memandangku, “Betapa sia-sianya duduk menulis bila kamu belum pernah berdiri untuk hidup”

Jleb.

Aku pesankan kopi susu tanpa gula kesukaannya. Dengan maksud beliau tak banyak bicara. Sebab jika berhadapan dengan mbah ini, aku sering mati kata.

Kamis, 17 Juli 2014

Catatan Pak Guru: MOS Hari Keempat


Hari keempat MOS (masa orientasi siswa) ini, anak-anak belajar tentang SED (Susainable Eco Development). Salah satu kurikulum Unggulan Sekolah Pembangunan Jaya yang mengenalkan kepada para siswa agar bisa memelihara serta peduli terhadap lingkungan dengan baik dan berkelanjutan. Beberapa dari mereka membawa pohon buah yang akan di tanam kebun sekolah. 

Mereka diminta untuk bisa merawat tanaman-tanamannya dengan cara menyiraminya tiap pagi. Hal yang sederhana, namun itu mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pohon tak hanya dipandang sebagai pohon semata, mereka diajak untuk menyadari adanya rangkaian semesta yang mengikutinya. Mereka diajak untuk menyadari peranannya di dalam semesta ini. 


 Ahmad Shobirin
Pendidik di SD Pembangunan Jaya 2 Sodoarjo
Twitter @pakguruobi

Rabu, 09 Juli 2014

Tentang Kekalahan


Rabu, 9 Juli 2014. Seusai terawih di warung kopi pasar Siwalankerto Surabaya.

--
Hari ini libur, ada pemilu. Dua pasang calon presiden dan wakil presiden. Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Kasmin memilih golput. Begitu juga Bejo, mereka ndak ndak ikut memilih diantara kedua calon. Kalau Kasmin disebabkan ketidakpedulian. Tetapi Bejo lebih kepada pemikirannya tentang adanya kesalahan dalam konstitusi negara mengenai pemilu ini. 

“Walah gayamu Jo, omongmu kayak pengamat hukum tata negara, wong kamu tata keluarga aja belum bisa, kok ngomongin tata negara”. Ujar Kasmin ketika mendengar alasan bejo ndak ikut nyoblos.

“Lho sekarang coba sampeyan pikir, katanya presiden dipilih langsung oleh rakyat, tapi nyatanya tidak, kalau saya milih langsung saya pasti milih sampeyan cak?”

“Omonganmu!”

“Calon-calon yang ada itukan sebenarnya dipilih partai, lalu secara terpaksa rakyat mau ndak mau harus memilih apa yang telah dipilihkan partai kan? Lha gitu kok katanya pilihan rakyat langsung!”

“Wis Jo, kalau ndak ada pilihanmu yo ndak usah milih.”

“Lho wong kalau ndak milih diharamin oleh MUI gitu.”

“Yo kudu diharamin dong, kamu harus tahu posisi MUI di negeri ini gimana? masak fatwanya ndak mendukung program pemerintah. Bisa di bubarin mereka.”

“Tapi, coba lihat tuh, meski kita ndak milih, pemilunya masih tetap berjalan kan. Lancar dan aman.”

“Lancar gimana? Wong saling mengklaim menang gitu”

“Biarin! biar gelut sekalian!”

“Jangan jadi provokator gitu Jo, kalau gelut beneran gimana?”

“Ah ndak mungkin gelut, wong rakyat ikut-ikut nyoblos itu cuman iseng-iseng kok, ndak serius.”

“Ah kamu itu, ini menentukan masa depan Indonesia kok iseng. Sudah jangan rame wae Jo, nanti malam megang siapa?”

“Tetep Amerika latin Min, Argentina!”

“Haha, yakin tah? pur-puran apa lek-lekan”

“Lek-lekan bos! Kenapa ndak berani tah?”

“Wis ayo, ndang! masang berapa?”

--

Karena teknologi, dengan cepat sudah ketahuan siapa yang terpilih. Meski dua-duanya mengaku menang. Yang pasti nanti salah satu diantaranya yang jadi presiden. Bukan keduanya. Takdir tetap berjalan. Pasti ada yang merasa menang atau dimenangkan, dan ada yang merasa kalah atau dikalahkan.  

Namun apakah kemenangan dan kekalahan itu? Saya mendapati tulisan yang bagus mengenai hal ini dalam buku “Manuskrip yang Ditemukan di Accra” karya Paulo Coelho.

Dikisahkan dalam buku itu ada seorang yang disebut Guru. Ditengah kekacauan kota Yerussalem beberapa orang memilih berkumpul didekat sang Guru untuk mendengarkan petuah-petuahnya. Salah seorang dari mereka menanyakan tentang kekalahan. Dan  sang Guru menjawab:

***
Apakah daun yang gugur dari pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?

Kata pohon kepada daun, “Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku. Berkatmu aku bisa bernapas dan hidup. Berkat dirimu pula kau merasa dicintai, sebab aku dapat memberikan naungan kepada pengelanan yang kelelahan. Getahmu da di dalam getahku; kita berdua satu.”

Apakah orang yang bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk mendaki gunung tertinggi di dunia merasa terkalahkan apabila, setelah mencapai gunung itu, dia mendapati puncaknya terselubung awan-awan badai? Katanya kepadagunug itu, “Kau tidak menginginkan diriku kali ini, tapi cuacaini pasti berlalu, dan suatu hari nanti aku akan sampai ke puncakmu. Untuk sementara kau akan tetap di sini, menungguku.”

Dalam siklus alam tak ada kemenangan maupun kekalahan: yang ada hanyalah pergerakan.

Musim dingin berusaha keras mempertahankan kekuasaan, namun akhirnya harus tunduk dalam musim semi dan membawa bebungaan dan kebahagiaan.

Musim panas ingin hari-harinya yang hangat tak pernah berakhir, sebab ia percaya bahwa kehangatannya baik bagi Bumi, akan tetapi pada akhirnya dia harus menerima kedatangan musim gugur yang akan memberikan istirahat bagi Bumi.

Rusa-rusa memakan rumput dan dimangsa oleh singa. Ini bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan beginilah cara Tuhan menunjukkan siklus kematian dan kebangkitan kembali pada kita.

Dan dalam siklus itu tak ada yang menang maupun yang kalah; yang ada hanyalah tahap-tahap yang mesti dijalani. Setelah hati manusia memahaminya, dia pun bebas san sanggup menerima masa-masa sulit dan tidak akan terlena oleh saat-saat penuh kemenangan.

Sebab keduanya akan berlalu.Yang satu menyusul yang lain. Dan siklus ini akan terus berlanjut sampai kita membebaskan diri dari yang badaniah serta menemukan Energi Ilahi.

Oleh sebab itu, ketika sang petarung berada di arena—entah atas pilihannya sendiri atau karena tangan-tangan nasib yang tak terselami menempatkannya di sana—kiranya rohnya dipenuhi suka cita dalam menghadapi pertarungan yang telah menunggu. Bila ia berpegang pada harga diri dan kehormatannya, walaupun ia menjadi pihak yang kalah dalam pertarungan itu, namun dia takkan pernah terkalahkan, sebab jiwanya tetap utuh.

Dan dia takkan menyalahkan siapa pun atas hal yang menimpanya. Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri.

Hanya mereka yang gagal mengenali kekuatannya sendiri akan berkata, “Aku kalah”, dan diliputi kesedihan.

Lain-lainnya akan meneteskan air mata sekedarnya namun tak pernah menyerah dan mengasihani diri. 

Mereka tahu, ini hanyalah jeda dalam pertempuran, dan untuk saat ini situasi mereka tidak menguntungkan.

Mereka mendengarkan detak jantung sendiri. Mereka menyadari rasa tegang dan takut itu. Mereka merenungkan hidup mereka dan mendapati bahwa, meski mereka gentar, jiwa mereka masih menyimpan keyakiann yang memacu mereka untuk jalan terus.

Mereka mencoba menelaah apa yang benar dan apa yang salah dalam tindakan mereka. Mereka memanfaatkan momen kekalahan ini untuk beristirahat, menyembuhkan luka-luka, merancang strategi-strategi baru, dan membuat persiapan lebih baik.

Bersabar menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Jangan biarkan kesempatan berikutnya lewat begitu saja.

Banggalah atas bekas-bekas lukamu. Bekas-bekas luka itu berbicara lebih lantang katimbang pedang yang menyebabkan.

--

Dalam kehidupan Kasmin dan Bejo pun pernah merasa kalah maupun menang. Seperti tadi malam, Kasmin menang terhadap Bejo yang menjagokan Brazil. Bejo ndak menyerah, ia mencoba lagi bertaruh mendukung Argentina dibanding Belanda. Entah siapa nanti yang menang.

“Kasmin, Bejo, ingat, taruhan itu haram.”
  
Kalau saya sih, Belanda.      

[]

Ahmad Shobirin|9 Juli 2014

Selasa, 12 November 2013

Menziarahi Diri


Catatan hari ini : Selasa, 12 Nopember 2013

Menjaga UAS di kelas 2a. Sembari membaca koran Kompas di rubrik  “Kehidupan” yang hadir tiap minggu. Bagi kebanyakan orang Minggu adalah jeda rutinitas. Saat untuk merenung, koran-koran tidak hanya memuat mengenai berita-berita saja. Tetapi lebih kepada ficer dan tulisan-tulisan yang lebih bersifat ke sastra. Seperti yang saat aku baca hari ini.

Ada judul arikel “Perjalan Menziarahi Diri” tulisan mengenai perjalanan melintasi perbatasan perancis-spanyol menuju Santiago de Compostela. Aku langsung teringat tentang satu novel Paulo Coelho yang berjudul The Pilgrimage: atau Ziarah.

Dalam tulisan itu mereka yang melakukan perjalanan adalah mereka yang  mengikuti panggilan jiwanya. Mereka bisa berbagi kisah-kisah yang menjadi beban kepada mereka yang sama-sama melakukan perjalanan tanpa merasa khawatir dihakimi. Namun yang lebih sering adalah keheningan yang hadir di antara desau angin dan desir air dari sungai-sungai kecil, hal-hal itu lebih melarutkan kepedihan mereka. Perasaan ringan mereka rasakan saat duduk melepaskan lelah di bawah pohon oak tua di hutan. Jiwa kering mereka terasa seperti dibasuh embun yang menyelimuti jalan-jalan setapak.

Dalam tradisi lain, seperti di jawa hal ini juga tak terlalu asing. Mereka menziarahi diri untuk menemukan makna hidup. Kita sering melihat di jalanan ada seseorang yang memakai tongkat dan membawa tas ransel. Atau bahkan tak membawa apapun selain hanya baju di badan. Badan dan pakaiannya lusuh. Mereka tidur dimana ia suka, makan dan minum dari belas kasihan orang. Kita menganggapnya gila, pahadal mungkin mereka sedang menziarahi diri. Ingin mengerti tentang makna-makna kehdupan. Perjalanan terjauh adalah pejalanan ke dalam diri sendiri.   

Ada kata yang menarik dari yang aku baca di artikel ini “Kalau kita mematuhi hukum Semesta, hidup ini akan terasa penuh, tetapi tak pernah sesak”.

Ingin rasanya melakukan penziarahan. Pergi ke suatu tempat. Tetapi bukankah tiap detik adalah penziarahan? Berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Adakah kita telah mengambil makna dari sana?

Rabu, 02 Oktober 2013

Quotes From "Kang Sejo Melihat Tuhan" [1]


Malam tadi, bersama kopi buatan istri, aku membaca lagi buku Mohamad Sobary “Kang Sejo Melihat Tuhan”. Ada beberapa kata-kata yang membuat aku tersadar betapa aku harus tetap menyelam dalam diri ini. Memaknai kehidupan agar lebih baik lagi.

Beberapa kalimat yang menarik, aku tulis ulang.

“Kita bisa menang perkara (keduniaan), kita bisa memiliki status hukum yang kuat karena kuitansi di tangan kita memberi bukti-bukti. Meski kuitansi itu bisa palsu. Tetapi dengan sorot mata ilahiah yang mampu menembus rambu-rambu yang paling rapat sekalipun, segalanya telanjang di depan mata-Nya. Kebenaran itu tak bisa dibungkam karena kebenanran itu akan menyatakan dirinya, bila waktunya telah tiba.
Barangkali benar, kita bisa menipu sebagian orang, tapi tak akan bisa kita menipu semua orang. Kita bisa menipu semua orang untuk waktu tertentu, tetapi kita tak bisa menipu mereka buat selamanya. Kebenaran punya hak waktu untuk menyatakan dirinya.”
---
“Kehidupan ini tak sekedar sebagaimana nampaknya. Hakikat harus ditemukan melalui usaha terus menerus untuk menyelam dalam dan terbang tinggi, intens dan total. Puncak perjalanan rohani seperti itu berupa penyerahan rohani secara utuh, dan mutlak kepada zat Ilahi.”
---
“Kehidupan harus tak lagi diwarnai pamrih atau kepentingan apapun selain buat penyerahan diri”
---
“Sejauh orang merambah alam roh yang gaib itu, ia sebenarnya tidak akan sampai kemana-mana. Orang berpetualang jauh hanya untuk sampai pada dirinya sendiri.
Kata ‘mencapai’ itu sebenarnya tidak begitu tepat, karena apa sebenarnya yang bisa kita capai, selain bahwa semua itu semata karena kemurahan Allah? Kita dengan kata lain tidak akan pernah mencapai apa-apa.”
---
“Kita ini bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa, dan tak bisa apa-apa. Serupa dengan la khawla wala quata illa billah itu.”
[] 
Ahmad Shobirin/3/Okt/2013