Salam

Terimakasih atas kesediaanya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semoga memberi manfaat. Keselamatan, kesejahteraan dan berkah Tuhan semoga senantiasa melingkupi kita semua. Mari menikmati hidup ini...
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2015

Ngopi, Membaca, Menua

Selamat hari buku, oh sudah lewat ya? Lewat mana tadi, kok ndak lihat. Hehe. Ah ndak masalah, anggap saja setiap hari adalah hari buku.

Terimakasih saya sampaikan kepada Warkop Buku​. Sebab ia telah memberikan hadiah buku yang bagus pada saya “The Greatness Guide” karya Robin Sharma.

Saya tertarik dengan buku ini sebab ada endorsment dari Paulo Coelho, salah satu penulis yang saya sukai. Di dalam endorsment itu ia mengatakan bahwa buku-buku Robin Sharma telah menolong orang-orang di seluruh dunia untuk menjalani hidup yang luar biasa.

Saya penasaran. Sembari ditemani kopi, saya membaca buku itu. Dan betul saja. Isinya menyentuh hati dan pikiran saya. Mencerahkan dan mengisnpirasi. Tulisan-tulisannya lembut. Di buku yang berjumlah 258 halaman ini berisi 101 judul tulisan.

Setiap tulisan rata-rata dua halaman saja. Sehingga kita bisa menyediakan sekedar satu menit untuk membaca satu judul tulisan. Kalau ditemani dengan secangkir kopi, mungkin satu tulisan, cukup satu sruputan kopi. Meski tulisannya pendek, namun efek yang ditimbulkan dari membacanya tidaklah pendek. Pikiran menjadi berkembang dan lebih positif. “Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru”, kata Wandel Holmes yang dikutip Robin “tidak akan kembali ke dimensi aslinya”.

Bagi yang tidak (belum) menyukai membaca, mungkin akan berpikir berkali-kali untuk sekedar beli buku. Padahal harga buku mungkin hanya seharga 2 sampai tiga kali makan siang. Ada baiknya kita kurangi pengeluaran untuk biaya makan, dan kita gunakan untuk membeli buku bagus. Jika tak ada waktu untuk ke toko buku, bisa memilihnya di online shop seperti di Warkop Buku.

Dan tak perlu cemas untuk menginvestasikan uang untuk sebuah buku bagus. Sebab, mendapatkan satu ide dari sebuah buku, akan membawa ke satu tingkat baru dan mengubah cara kita memandang dunia. Buku-buku akan membentuk pemikiran dan nilai filosofi pribadi kita. Kalau kita sudah punya kebiasaan membeli buku dan belum sempat membacanya, kita tak usah merasa resah, bersalah, atau sia-sia. Toh kita sudah membangun perpustakaan kita. Dan itu sesuatu yang indah bukan?

Membaca buku karya seseorang yang kita hormati, berarti kita berdialog dengannya. Seakan-akan dia hadir di samping kita. Apalagi lagi dengan ngopi, seakan ngopi bersama. Tentu hal itu akan membuat kecerdasan dan kebijaksanaan mereka melekat pada kita. Mata yang digunakan mebaca buku yang bagus, tidaklah menjadi mata yang sama ketika ia memandang dunia. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi.

Dalam tulisan yang lain “Belajar atau Menua” ia bercerita pernah mendapatkan kesempatan bercakap-cakap dengan Shimon Peres, mantan perdana menteri Israel dan pemenangNobel Perdamaian. Robin bercerita mata Simon Peres berbinar-binar ketika ia berbicara mengenai buku, ide-ide besar dan pembelajaran. “Mr. Peres, kapan anda membaca” tanya Robin dan dijawab “Robin, kapan saya tidak membaca? Saya membaca ketika bangun di pagi hari, kapan saja saya bisa selama siang hari, dan setiap malam. Sebagian akhir minggu saya habiskan untuk membaca buku. Buku adalah teman tetap saya. Jika Anda makan tiga kali sehari, Anda akan kenyang. Namun jika anda membaca tiga kali sehari, Anda akan bijaksana.”

Membaca adalah salah satu obat anti penuaan, sebab ia sarana yang asik dalam belajar. Sepanjang kita belajar sesuatu setiap hari, melebarkan batas kemampuan kita, dan memperbaiki cara berpikir kita, kita tidak akan menjadi tua. Penuaan itu terjadi pada orang yang kehilangan semangat untuk menjadi lebih baik dan putus hubungan dengan rasa tahu yang alamiah. Satu ide yang kita temukan dalam buku dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia, mengubah cara kita berkomunikasi dengan orang lain serta dapat membantu kita hidup lebih lama dan bahagia.

Semoga tak terjadi bahwa orang tak lagi memegang buku untuk dibaca setelah selesai sekolah. Dan juga tak berharap bahwa banyak orang yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton TV dan ber hahahihi tanpa arti di media sosial dari pada menyelami pemikiran terdalam orang-orang sukses yang telah menapaki bumi ini. Semoga kita tak menutup pikiran terhadap wawasan-wawasan baru dan pemikiran-pemikiran yang hebat.

Dan ketika keluar dari rumah, jangan lupa membawa bekal buku.

Mari ngopi, membaca, agar tak menua sia-sia.

@pakguruobi

Sabtu, 21 Maret 2015

Sepi, tapi Tak Kesepian

Pernah kesepian? Ah kasihan sekali. Karena itu, sengajalah menyepikan diri. Nyepi. Ia bentuk kata kerja aktif. Yang bisa berarti meninggalkan keramaian. Dan karena ditinggal, keramaian menjadi merasa kesepian. Kasihan keramaian. Sebaliknya, jika kau kesepian, kamu bersikap pasif. Keramaian meninggalkanmu. Itu ndak keren. Kita tahu rasanya sakitnya di abaikan. Di sini kan sakitnya??! (jangan lupa tunjuk dada)

“Kesepian mengungkapkan kepedihan hati karena kesendirian”, Kata Paul Tillich “Dan menyendiri mengungkapkan kesenangan kesendirian kita”

Mungkin saat ini kita masih merasa muda. Sehingga jarang dihinggapi kesepian. Namun, kata orang-orang, bahwa nanti semasa tua, kita akan akrab dengan kesepian itu. karena itu, kita harus punya cara agar tak kesepian. Aku ingat sebuah kisah Paulo Coelho di bukunya “Seperti Sungai yang Mengalir”.

Ada perempuan tua berdiri di area untuk pejalan kaki di Avanida Atlantica Copacabana (tentu saya belum pernah ke sana). Ia membawa sebuah gitar dan ajakan yang ditulis tangan “Mari bernyanyi bersama-sama.” 

Dia mulai memetik gitarnya sendirian, kemudian datanglah seorang pemabuk, dan seorang perempuan lainnya, lalu kedua orang itu mulai menyanyi bersama. Tak lama kemudian, sejumlah orang ikut bernyayi, dan sekelompok kecil orang-orang lainnya menjadi penonton. Mereka yang menonton bertepuk tangan setiap kali sebuah lagu selesai dinyanyikan.

“Kenapa Anda melakukan ini?” tanya Paulo pada perempuan itu ketika jeda di antara dua lagu.

“Supaya tidak sendirian,” Jawabnya. “Hidup saya sangat sepi, seperti yang dialami hampir semua orang yang sudah tua.” Lanjutnya. 

“Seandainya saja setiap orang menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cara seperti  ini” Pikir Paulo.

Maka, jika kau kesepian, saran saya, berdirilah di tengah perempatan jalan raya, lalu bernyanyi-nyanyilah. Yakin! kau tak kan kesepian.   

| @pakguruobi

Rabu, 16 Juli 2014

NOVELISASI TAFSIR AL-FATIHAH



Judul Buku      : Kafilah Al-Fatihah: Kisah Para Penjelajah Induk Al-Quran
Penulis             : Je Abdullah
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : I, Januari 2014
Tebal                : xxxviii + 341 hlm
ISBN               : 978-602-1606-23-0
---

Upaya mamahami maksud firman-firman Allah  dengan kemampuan manusia itulah yang dinamakan tafsir. 
~ M.Quraish Shihab

Ramadhan bulan Al-Quran. Dan ingat, ramadhan hampir usai. Membaca al Quran di bulan ini akan mendapatkan pahala yang berlimpah. Namun sebagai seorang muslim yang haus akan ilmu, tidak cukup hanya sekedar membacanya, namun juga memaknainya. Buku ini mampu mengantarkan kita untuk memahami al Quran dengan cara yang unik.

Cara tafsir genre baru

Al Quran merupakan petunjuk bagi manusia agar sikap dan perbuatannya sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Upaya mamahami maksud firman-firman Allah dengan kemampuan manusia itulah yang dinamakan tafsir, begitu ujar M. Quraish Shihab. Je Abdullah penulis buku ini mencoba untuk menafsirkan al Fatihah dengan kemampuan dan caranya yang unik, yakni dalam bentuk novel.

Cerita Novel ini diawali dari surat misterius yang diterima Yuli, seorang remaja Masjid desa Tinggar Mataram. Isi surat itu telah benar-benar membuat kepercayaan diri Yuli merasa terkoyak dan terguncang. Sebab selama ini merasa telah memasrahkan seluruh hidupnya untuk Al-Quran. Namun ketika membaca surat itu ia merasa dalam kekeliruan yang bodoh dalam memperlakukan Al-Quran. Surat itu berisi tentang kegelisahan al Quran. Sang Al-Quran merasa kesepian, meskipun pengagumnya banyak. Ia merasa ada tembok yang memisahkan mereka dan pengagumnya, yakni bahasa. Sehingga mereka tak bisa saling berbicara dari hati ke hati. Memang benar, bahwa ia tersanjung sebab atas nama cinta dan kehati-hatian serta upaya memagari dari kekeliruan penafsiran, maka para ulama menyusun beberapa perangkat ilmu “canggih” seperti nahwu, sharaf, asbabunnuzul, balaghah, nasikh mansukh, munasabah, dan lain-lain sebagai dasar untuk memahami al Quran. Di sisi lain, hal itu menjadi benteng penghalang bagi orang-orang awam untuk mengkaji al Quran. Mereka takut karena merasa tak layak untuh hal itu. Maka yang terjadi, orang-orang hanya sekedar membacanya tanpa berupaya secara serius memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Padahal al Quran datang untuk semua, tanpa peduli ras, warna kulit,tingkat kecerdasa bahkan agama  

Malam itu juga, ia menemui sesepuh kampung Tinggar, Miq Saeni, alumnus perguruan tinggi jurusan Tafsir-Hadis. Miq Saeni merasakan hal yang sama. Gelisah. Gundah Gulana. Miq Saeni, berpesan kepada Yuli untuk mengumpulkan beberapa temannya yang peduli dengan Al-Quran esok bakda subuh. Untuk menjelaskan dan membahas tindak lanjut dari isi surat itu.

Isi surat itu benar-benar menampar dan menyadarkan mereka. Mereka merasa harus berbuat lebih untuk memaknai al Quran. Dari sana mereka mengambil inisiatif, bahwa gagasan mereka tentang halaqah tadarusan al quran yang dulu pernah mereka gagas harus segera direalisasikan. Bukan tadarusan yang biasa, namun yang lebih menekankan pada upaya memahami pesan al Quran. Pemaknaan yang dapat dijadikan pedoman nyata dalam memahami kehidupan sehari-hari.

Mereka memilih melakukannya tiap bakda subuh. Ayat-ayat yang mereka kaji adalah surat Al Fatihah. Pertemuan itu di pimpin oleh Miq saeni sebagai sesepuh kampung, dan setiap mereka yang hadir dalam tadarrusan itu dipersilahkan untuk memberikan padangan dan pendapat mengenai ayat yang kaji sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Dalam tadarrusan itu para tokoh berdialog secara interaktif untuk mengkaji dan menafsirkan surat al Fatihah. Makna-makna yang terkandung di dalamnya terangkum indah. Beberapa pembahasan ayat yang dilangsungkan pada setting tempat di pantai di Lombok menyeret imajinasi pembaca ikut merasakan suasana yang digambarkan. Hal ini membuat pembaca betah untuk menyimak setiap pembahasannya dengan mudah dengan suasana yang rileks. Tadarusan itu mengubah hidup mereka. Mereka menemukan makna hidup yang lebih dalam, mampu menemukan dan membuka pintu-pintu semesta kebahagian, menunjukkan jalan menuju kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup sejati.

Seperti kemampuan novel pada lazimnya novel ini mampu mengajak pembaca untuk larut dalam alur cerita dan mengambil makna-makna yang tersirat. Inilah salah satu keunggulan novel, yakni disajikannya konflik, penokohan, alur, latar, serta setting waktu dan tempat yang mampu membangkitkan dan memengaruhi imajinasi pembaca. Tak berlebihan jika buku ini bisa disebut sebagai novelisasi tafsir. Sebuah cara baru dalam dunia tafsir al Quran disajikan dengan cara yang unik.

Corak penafsiran

M. Quraish Shihab dam buku ‘Membumikan al Quran’ menyatakan bahwa dalam dunia tafsir, ada beberapa corak penafsiran seperti corak sastra bahasa, filsafat dan teologi, penafsiran ilmiah, fikih dan hukum, tasawuf, dan corak budaya kemasyarakatan.

Dalam bingkai novel ini, corak-corak penmafsiran tersebut dapat dikombinasikan menjadi satu. Inilah salah kelebihannya. Secara apik, ia melibatkan tokoh-tokoh dengan berbagai macam karakter dan latar belakang mampu membangun suasana dialogis interaktif diantara mereka. Para tokoh itu, mampu mengutarakan dan merangkum penjabaran para cendekiawan tafsir seperti M. Quraish Shihab dengan tafsir al Misbahnya, Wahbah Mustafa Zuhailli dengan tafsir al Munirnya, Ibnu Kathir, Ali Unal ulama dari Turki, Ashfahani, serta para cendekiawan lain dalam bidang tafsir al Quran yang tentunya mempunyai coraknya masing-masing. Mereka semua disatukan dalam novel ini.

Karenanya, novel ini tidak bermaksud menandingi tafsir-tafsir yang sudah ada, sebab justru tafsir-tafsir yang sudah ada menjadi bahan rujukan percakapan para tokoh-tokoh yang terlibat dalam novel. Tujuan karya ini jauh lebih sederhana yakni mengakrabkan al Quran kepada pembaca dengan cara yang kreatif namun tetap sarat makna. Mengungkapkan kandungan al Fatihah untuk dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan sebuah cara yang patut disambut baik dalam dunia tafsir al Quran yang cenderung formal, berat dan kaku, menjadi luwes, ringan dan mengalir. Karena itu, buku ini patut menjadi bacaan kita semua yang ingin mereguk kandungan makna al Quran khususnya surat al Fatihah dalam kehidupan sehari-hari. Selamat membaca dan menikmati sajian makna al Fatihah dengan cara yang asik. 

[]
Ahmad Shobirin
*Pendidik di SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan Pengelola Rumah Baca ImHabba Gresik
 Twitter: @pakguruobi

Rabu, 09 Juli 2014

Tentang Kekalahan


Rabu, 9 Juli 2014. Seusai terawih di warung kopi pasar Siwalankerto Surabaya.

--
Hari ini libur, ada pemilu. Dua pasang calon presiden dan wakil presiden. Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Kasmin memilih golput. Begitu juga Bejo, mereka ndak ndak ikut memilih diantara kedua calon. Kalau Kasmin disebabkan ketidakpedulian. Tetapi Bejo lebih kepada pemikirannya tentang adanya kesalahan dalam konstitusi negara mengenai pemilu ini. 

“Walah gayamu Jo, omongmu kayak pengamat hukum tata negara, wong kamu tata keluarga aja belum bisa, kok ngomongin tata negara”. Ujar Kasmin ketika mendengar alasan bejo ndak ikut nyoblos.

“Lho sekarang coba sampeyan pikir, katanya presiden dipilih langsung oleh rakyat, tapi nyatanya tidak, kalau saya milih langsung saya pasti milih sampeyan cak?”

“Omonganmu!”

“Calon-calon yang ada itukan sebenarnya dipilih partai, lalu secara terpaksa rakyat mau ndak mau harus memilih apa yang telah dipilihkan partai kan? Lha gitu kok katanya pilihan rakyat langsung!”

“Wis Jo, kalau ndak ada pilihanmu yo ndak usah milih.”

“Lho wong kalau ndak milih diharamin oleh MUI gitu.”

“Yo kudu diharamin dong, kamu harus tahu posisi MUI di negeri ini gimana? masak fatwanya ndak mendukung program pemerintah. Bisa di bubarin mereka.”

“Tapi, coba lihat tuh, meski kita ndak milih, pemilunya masih tetap berjalan kan. Lancar dan aman.”

“Lancar gimana? Wong saling mengklaim menang gitu”

“Biarin! biar gelut sekalian!”

“Jangan jadi provokator gitu Jo, kalau gelut beneran gimana?”

“Ah ndak mungkin gelut, wong rakyat ikut-ikut nyoblos itu cuman iseng-iseng kok, ndak serius.”

“Ah kamu itu, ini menentukan masa depan Indonesia kok iseng. Sudah jangan rame wae Jo, nanti malam megang siapa?”

“Tetep Amerika latin Min, Argentina!”

“Haha, yakin tah? pur-puran apa lek-lekan”

“Lek-lekan bos! Kenapa ndak berani tah?”

“Wis ayo, ndang! masang berapa?”

--

Karena teknologi, dengan cepat sudah ketahuan siapa yang terpilih. Meski dua-duanya mengaku menang. Yang pasti nanti salah satu diantaranya yang jadi presiden. Bukan keduanya. Takdir tetap berjalan. Pasti ada yang merasa menang atau dimenangkan, dan ada yang merasa kalah atau dikalahkan.  

Namun apakah kemenangan dan kekalahan itu? Saya mendapati tulisan yang bagus mengenai hal ini dalam buku “Manuskrip yang Ditemukan di Accra” karya Paulo Coelho.

Dikisahkan dalam buku itu ada seorang yang disebut Guru. Ditengah kekacauan kota Yerussalem beberapa orang memilih berkumpul didekat sang Guru untuk mendengarkan petuah-petuahnya. Salah seorang dari mereka menanyakan tentang kekalahan. Dan  sang Guru menjawab:

***
Apakah daun yang gugur dari pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?

Kata pohon kepada daun, “Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku. Berkatmu aku bisa bernapas dan hidup. Berkat dirimu pula kau merasa dicintai, sebab aku dapat memberikan naungan kepada pengelanan yang kelelahan. Getahmu da di dalam getahku; kita berdua satu.”

Apakah orang yang bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk mendaki gunung tertinggi di dunia merasa terkalahkan apabila, setelah mencapai gunung itu, dia mendapati puncaknya terselubung awan-awan badai? Katanya kepadagunug itu, “Kau tidak menginginkan diriku kali ini, tapi cuacaini pasti berlalu, dan suatu hari nanti aku akan sampai ke puncakmu. Untuk sementara kau akan tetap di sini, menungguku.”

Dalam siklus alam tak ada kemenangan maupun kekalahan: yang ada hanyalah pergerakan.

Musim dingin berusaha keras mempertahankan kekuasaan, namun akhirnya harus tunduk dalam musim semi dan membawa bebungaan dan kebahagiaan.

Musim panas ingin hari-harinya yang hangat tak pernah berakhir, sebab ia percaya bahwa kehangatannya baik bagi Bumi, akan tetapi pada akhirnya dia harus menerima kedatangan musim gugur yang akan memberikan istirahat bagi Bumi.

Rusa-rusa memakan rumput dan dimangsa oleh singa. Ini bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan beginilah cara Tuhan menunjukkan siklus kematian dan kebangkitan kembali pada kita.

Dan dalam siklus itu tak ada yang menang maupun yang kalah; yang ada hanyalah tahap-tahap yang mesti dijalani. Setelah hati manusia memahaminya, dia pun bebas san sanggup menerima masa-masa sulit dan tidak akan terlena oleh saat-saat penuh kemenangan.

Sebab keduanya akan berlalu.Yang satu menyusul yang lain. Dan siklus ini akan terus berlanjut sampai kita membebaskan diri dari yang badaniah serta menemukan Energi Ilahi.

Oleh sebab itu, ketika sang petarung berada di arena—entah atas pilihannya sendiri atau karena tangan-tangan nasib yang tak terselami menempatkannya di sana—kiranya rohnya dipenuhi suka cita dalam menghadapi pertarungan yang telah menunggu. Bila ia berpegang pada harga diri dan kehormatannya, walaupun ia menjadi pihak yang kalah dalam pertarungan itu, namun dia takkan pernah terkalahkan, sebab jiwanya tetap utuh.

Dan dia takkan menyalahkan siapa pun atas hal yang menimpanya. Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri.

Hanya mereka yang gagal mengenali kekuatannya sendiri akan berkata, “Aku kalah”, dan diliputi kesedihan.

Lain-lainnya akan meneteskan air mata sekedarnya namun tak pernah menyerah dan mengasihani diri. 

Mereka tahu, ini hanyalah jeda dalam pertempuran, dan untuk saat ini situasi mereka tidak menguntungkan.

Mereka mendengarkan detak jantung sendiri. Mereka menyadari rasa tegang dan takut itu. Mereka merenungkan hidup mereka dan mendapati bahwa, meski mereka gentar, jiwa mereka masih menyimpan keyakiann yang memacu mereka untuk jalan terus.

Mereka mencoba menelaah apa yang benar dan apa yang salah dalam tindakan mereka. Mereka memanfaatkan momen kekalahan ini untuk beristirahat, menyembuhkan luka-luka, merancang strategi-strategi baru, dan membuat persiapan lebih baik.

Bersabar menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Jangan biarkan kesempatan berikutnya lewat begitu saja.

Banggalah atas bekas-bekas lukamu. Bekas-bekas luka itu berbicara lebih lantang katimbang pedang yang menyebabkan.

--

Dalam kehidupan Kasmin dan Bejo pun pernah merasa kalah maupun menang. Seperti tadi malam, Kasmin menang terhadap Bejo yang menjagokan Brazil. Bejo ndak menyerah, ia mencoba lagi bertaruh mendukung Argentina dibanding Belanda. Entah siapa nanti yang menang.

“Kasmin, Bejo, ingat, taruhan itu haram.”
  
Kalau saya sih, Belanda.      

[]

Ahmad Shobirin|9 Juli 2014

Jumat, 06 Desember 2013

MENGEMBARAKAN BUKU KE SANGGAR BACA


Beberapa hari lalu saya mengirimkan beberapa buku koleksi untuk sanggar baca. Sebab, sebelumnya, sahabat saya sejak kuliah @Syerly Ade memberitahu saya bahwa ia sedang membuat Sanggar Baca Anak Bangsa (SBAB). Ia ingin membuat tempat baca bagi masyarakat di desanya yakni Ds. Kedungsukodani Rt 10/Rw 03 Kec. Balongbendo Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Ia memohon doa restu karena ia akan memulai perjuangan membuat sanggar tersebut. Upaya yang perlu diberikan apresiasi sebab itu menjadi salah satu cara melanjutkan cita-cita kemerdekaan. Ia saya kenal sebagai sosok yang selalu berjuang. Ia tak mau berhenti dan terus bergerak.

Saya masih ingat, ketika ia pernah mengajak saya untuk menjadi relawan sudut baca Surabaya. Suatu gerakan yang mendukung gerakan masyarakat membaca. Kami bertugas di tempat-tempat umum, seperti terminal dan stasiun. Di mana kami menyediakan rak untuk menyusun buku-buku yang disuplai dari perpustakaan daerah untuk dibaca mereka yang sedang menunggu bis atau kereta. Sekarang saya tidak tahu bagaimana kelanjutan programnya. Itu program bagus, sayang jika ditinggal lalu.

Sekarang, saya lihat di Surabaya, muncul taman bacaan masyarakat (TBM) di kampung-kampung. Tentunya hal itu untuk menggairahkan masyarakat untuk membaca. Masyarakat bergairah adanya hal itu, awalnya. Namun sekarang, buku-buku itu sobek sana-sini, mereka merasa sepi, berdebu dan tak terurus lagi.

Ketika SMA, teman saya di desa yang penggemar buku menggagas pembuatan sanggar baca di Mushollah. Kami ingin anak-anak dan warga  sekitar senang membaca. Para remaja mushollah berkumpul untuk merealisasikan gagasan ini. Kami berhasil mendapatkan banyak buku-buku. Masyarakat membantu untuk membuat rak-raknya. Kami menatanya dengan rapi. Masyarakat senang, anak-anak saling berebut membaca buku. Waktu bergulir, tak ada lagi yang membaca. Buku-buku itu bernasib sama. Kesepian. Hilang.

Apa hal yang sama juga terjadi di perpustakaan umum kota atau daerah?. Mungkin berbeda. Sebab buku-buku itu ada yang merawat. Dan ada anggaran pasti dari pemerintah. Terlepas apakah ramai pengunjungnya atau tidak.   

Apa yang salah dari sanggar baca? Tata kelola, mungkin. Jika tak ada pembaruan atau sirkulasi buku di sanggar baca, maka masyarakat akan bosan. Sebab dengan minimnya koleksi yang dipunyai, saya yakin tak perlu waktu lama bagi masyarakat untuk membacanya. Karena itu saya pikir perlu ada orang-orang yang benar-benar peduli terhadap sanggar baca. Sekedar menggagas tak akan membuat puas, oleh sebab itu perlu mengawas dan jika sudah jadi tidak lantas dilepas. Perlu kontinuitas manajerial dan bekerja dengan ikhlas.

Saya yakin sahabat saya sudah memikirkan hal itu. Rumusan-rumusan apa yang saja yang perlu ia pasti tahu. Ia bukan tipikal orang yang memulai tanpa menyelesaikan. Sahabat saya pasti sudah tahu rumusan ini bahwa “Kekuatan dan kegigihan dalam melangkah lebih diperlukan manakala kita berada di pertengahan perjalanan, bukan hanya di awal. Sehingga, di akhir perjalanan nanti kita kita bisa puas dan tenang.” Ia tahu caranya menyalakan lilin, agar orang-orang tak mengutuk kegelapan. Karena itu, mari membantunya—sanggar baca—untuk mengumpulkan buku-buku.

Mengenai buku-buku dan perpustakaan, aku ingat salah satu renungan Paulo Coelho dalam bukunya “Seperti Sungai yang Mengalir”.

“....saya memutuskan hanya menyimpan empat ratus buku di perpustakaan saya—beberapa karena memiliki nilai kenangan, lain-lainnya karena masih sering saya baca ulang. Saya mengambil keputusan ini karena berbagai alasan, dan salah satunya adalah rasa sedih saya kalau melihat betapa koleksi buku-buku yang dikumpulkan dengan susah payah seumur hidup, sering kali dijual murah begitu saja secara borongan, setelah pemilikya meninggal dunia, tanpa menunjukkan respek sedikitpun pada buku-buku tersebut. Selain itu untuk apa menyimpan buku-buku di rumah? Untuk membuktikan kepada teman-teman saya, betapa berbudayanya saya? Untuk menjadi penghias dinding-dinding? Buku-buku yang saya beli itu akan jauh bermanfaat kalau ditaruh di perpustakaan umum daripada di rumah saya.
Dulu saya suka berkata bahwa saya membutuhkan buku-buku itu, sebab siapa tahu saya butuh informasi di dalamnya. Tetapi sekarang, kalau ingin mencari tahu tentang sesuatu, saya tinggal menyalakan komputer, mengetikkan kata kuncinya, dan semua yang perlu saya ketahui langsung terpampang di layar –berkat internet, perpustakaan terbesar di palnet ini.
Tentu saja saya tetap membeli buku—mereka tidak bisa digantikan oleh versi elektronik apa pun, tetapi begitu saya selesai membacanya, buku itu saya lepaskan; saya berikan kepada seseorang, atau saya sumbangkan keperpustakaan umum. Saya bukan bermaksud menyelamatkan hutan ataupun bermurah hati. Saya sekedar meyakini bahwa sebuah buku mempunyai perjalanannya sendiri, dan tidak seharusnya dikurung dalam rak.
... Marilah kita bebaskan buku-buku itu untuk mengembara, disentuh tangan tangan lain, dan dinikmati mata orang lain.

Saya yakin, pembaca punya beberapa buku yang saya pikir, sudah tak akan dibuka lagi. Karena itu, ada baiknya kita bebaskan mereka untuk mengembara, disentuh oleh tangan yang lain menjelajah pikiran orang lain. Bolehlah sekarang, mari kita alirkan buku-buku itu kepada sanggar-sanggar baca.

Semboyan sahabat saya dalam perjuangan sanggar baca ini adalah, “Apapun yang bisa kita lakukan untuk kebaikan negeri ini mari kita lakukan meski hanya dengan satu buku”

Mari berbagi buku!

[]
*Ahmad Shobirin Obiyoso