Salam

Terimakasih atas kesediaanya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semoga memberi manfaat. Keselamatan, kesejahteraan dan berkah Tuhan semoga senantiasa melingkupi kita semua. Mari menikmati hidup ini...
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

4 GAYA KOMUNIKASI NLP

Dalam berkomunikasi kita mempunyai 4 gaya yang kita gunakan. Namun, dari keempat gaya tersebut, selalu ada gaya yang dominan. Yang manakah gaya komunikasimu? Jika kita memahami gaya kita sendiri dan juga mengetahui gaya orang lain, niscaya komunikasi kita akan lebih efektif. Sebab kita bisa menyelaraskan dengan komunikasi orang lain. Hubungan kita pun akan lebih baik.   

1 | GAYA KOMUNIKASI VISUAL 

SIFAT-SIFAT UMUM
  • Memandang segala sesuatunya sebagai gambar.
  • Mengingat dengan menciptakan gambaran-gambaran visual dalam pikiran mereka.
  • Belajar lebih cepat.
  • Mudah bosan ketika mereka tidak punya rencana.
  • Menghargai waktu. Memulai dan mengakhiri semua dengan tepat waktu.
  • Lebih suka gambaran besarnya dibandning dengan detailnya.
KATA/FRASA YANG SERING DIGUNAKAN
  • Itulah pandangan saya.
  • Itu tidak cukup jelas.
  • Persoalan itu masih gelap.
  • Bisakah anda terangkan persoalan itu?
  • Demikianlah pengamatan saya.
  • Senang melihatmu lagi.
  • Wah, lama tidak kelihatan.
  • Sampai bertemu lagi.
  • Kamu tampak luar biasa.
  • Fokus.
  • Bayangkan.
  • Tunjukkan.
  • Tataplah.
  • Amati.
  • Mencerahkan.
  • Samar.
YANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mudah beralih dari satu topik ke topik yang lain.
  • Piawai dalam memahami gambaran besar atau visi dan bekerja berdasarkan hal itu.
  • Pengelola waktu yang hebat.
  • Ahli mencetuskan gagasan visi masa depan.
YANG KURANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka menjadi kaku dan tak luwes jika ada perubahan jadwal.
  • Mereka tak sabar jika mendengarkan atau membaca perincian.
  • Mereka cenderung melewatkan perincian.
  • Tak sabar dengan orang lain.
  • Mereka cenderung membuat orang lain dan diri mereka sendri terburu-buru.
YANG MEMBUAT DIA STRES ATAU KEHILANGAN KENDALI
  • Menjadi kaku dan tak luwes jika gambaran dikepala mereka berubah terlalu cepat atau terlalu sering
  • Mereka tak sabar dengan terlalu banyak kata, detail, dan pembicaraan yang tak putus putus.
  • Mereka kesal jika tugas tidak diselesaikan tepat waktu atau jika seseorang terlambat datang pada waktu yang telah dijanjikan.
CARA MEMBANTU ORANG VISUAL KEMBALI TENANG
  • Berilah mereka pemberitahuan yang cukup banyak ketika membuat perubahan atas jadwal mereka.
  • Berilah informasi yang jelas dan singkat.
  • Sarankan mereka untuk menyediakan waktu untuk mengatur dan merapikan kamar atau ruang kerja mereka.
  • Sarankan mereka untuk merencanakan kegiatan masa depan, apakah itu suatu liburan atau kegiatan-kegiatan baru.  
2 | GAYA KOMUNIKASI AUDITORI
SIFAT-SIFAT UMUM
  • Mengingat apa yang mereka dengar—kata demi kata.
  • Belajar dengan mendengarkan dan biasanya tanpa mencatat.
  • Pintar bercerita.
  • Berbicara kepada diri sendiri ketika bekerja atau berkonsentrasi (anda akan sering mendengar mereka membuat suara seperti ahhh…., hmmm…, oooh…, yaaa…).
KATA/FRASA YANG SERING DIGUNAKAN
  • Katakan sekali lagi.
  • Nada bicaranya serius sekali.
  • Program itu sudah dicanangkan.
  • Ucapan itu tidak enak di telinga saya.
  • Masalah itu tak usah digembar-gemborkan.
  • Sudahlah, tak usah diributkan kembali.
  • Simaklah uraiannya.
  • Nada.
  • Berceloteh.
  • Hening.
  • Membahana.
YANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka biasanya adalah pembicara yang fasih dan pintar bercerita.
  • Mereka dalah orang yang banyak “ide” bagus untuk bertukan pikiran (brainstorming).
  • Mereka menyukai diskusi dan memberikan deskripsi atau penjelasan yang panjang.
  • Banyak dari mereka adalah penulis dan editor yang piawai.
  • Mereka suka melakukan perbaikan (baik terhadap hal maupun proses).
YANG KURANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka cenderung berterus terang, kasar dan tampak terlalu apa adanya.
  • Sulit bersikap diplomatis.
  • Mereka memberikan pendapat yang keras baik diminta maupun tidak.
  • Mereka cepat marah jika merasa tidak didengarkan.
  • Sering menyela dan sulit membiarkan orang lain menyelesaikan ucapan mereka.
  • Mereka cenderung melompat dari topik ketopik.
  • Mereka akan merajuk atau menarik diri ketika ide-ide mereka tidak diterima.
  • Mereka jatuh cinta pada suara mereka sendiri.
  • Mereka akan mengulang-ulang kata-kata mereka sampai mereka yakin bahwa mereka telah didengar.
YANG MEMBUAT DIA STRES
  • Jika ide mereka ditentang dan ditolak, mereka akan menarik diri dan frustasi.
  • Mereka bisa meninggikan suara bila merasa tak didengarkan dan akan berbicara dengan kasar.
  • Memburu-buru mereka ketika mereka berbicara.
  • Menyela mereka terlalu sering.
  • Ada suara berisi di latar belakang yang tak bisa mereka matikan.
CARA MEMBANTU ORANG AUDITORI KEMBALI TENANG
  • Tunjukkan bahwa anda terbuka bagi masukan-masukan dan ide-ide mereka.
  • Katakan kepada mereka bahwa anda akan menjadi pendengar ide-ide mereka pada waktu tertentu.
  • Berikan perhatian penuh anda sebagai seorang pendengar.
  • Jika mereka melantur dari topik, atau bermain-main terlalu lama, dorong mereka perlahan-lahan kembali ke jalur, dan bantu mereka untuk fokus pada apa yang sebenarnya mereka inginkan.
3 | GAYA KOMUNIKASI KINESTETIK 

SIFAT-SIFAT UMUM
  • Biasanya berbicara pelan.
  • Paling mudah belajar dengan melakukan.
  • Membutuhkan waktu untuk “merasakan dengan cara mereka” terhadap informasi baru.
  • Bisa mengatakan bahwa mereka “merasakan” sesuatu itu baik atau salah saat diminta untuk mengambil keputusan.
  • Memiliki kecenderungan mengambil waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan atau situasi baru ataumengubahnya menjadi seperti yang telah mereka akrabi.
KATA/FRASA YANG SERING DIGUNAKAN
  • Ayo kita sentuh persoalan ini.
  • Saya mulai menangkap maksudnya.
  • Hati-hati di jalan.
  • Mari kita duduk bersama.
  • Aku senang kamu menelpon.
  • Terkait
  • Menekan
  • Menggenggam
  • Menyerang
  • Nyaman
  • Tersandung
  • Keras
  • Lembut
  • Bermain
  • Merasa
  • Kuat
  • Bersama
  • Hubungan
YANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka pandai dalam membangun hubungan.
  • Mereka sangat setia.
  • Mereka menyayangi dan mendukung.
  • Mereka berorientasi detail.
  • Mereka adalah pemain tim yang hebat.
YANG KURANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Sebagian besar sulit mengambil keputusan dengan cepat.
  • Mereka kewalahan jika dihadapkan dengan terlalu banyaknya pilihan.
  • Mereka cenderung memberikan lebih banyak detailbdaripada yang dibutuhkan atau diinginkan oleh kebanyakan orang.
  • Mereka bisa amat lambat dan bekerja prosedural sehingga membutuhkan lebih banyak waktu daripada orang lain dalam menyelesaikan sebuah tugas.
  • Mereka ingin merasa dibutuhkan dan karena itu bisa sangat menuntut dalam hubungan pribadi maupun organisasi.
YANG MEMBUAT DIA STRES ATAU LEPAS KENDALI
  • Merasa diabaikan atau ditinggalkan.
  • Ketika tak merasa nyaman atau percaya diri dalam sebuah situasi atau hubungan, mereka menuntut perhatian.
  • Ketika merasakan suasana atau hubungan yang memburuk, mereka bisa menarik diri, baik secara fisik maupun emosional.
  • Terlalu banyak pilihan atau tugas yang rumit, mereka bisa kewalahan dan menghindari melakukan apa yang perlu dilakukan.
  • Ada yang menghentikan kesenangan dan mematikan kreatifitas mereka dengan terlalu menganalisis. Sehingga mereka nyaris tidak melakukan apa pun untuk menghindari konflik dan cenderung menjadi pasif alih-alih membela diri atau menyuarakan sebuah pendapat.
CARA MEMBANTU ORANG KINESTETIK KEMBALI TENANG
  • Tanyakan kepada mereka cara apa danbagaimana yang paling tepat untuk mendukung mereka.
  • Beri mereka waktu untuk menyendiri di ruangannya.
  • Doronglah mereka untuk memisahkan perasaan mereka dengan perasaan orang lain.
  • Berikan mereka panduan yang mereka butuhkan untuk mengambil tindakan dan terus bergerak maju.
  • Jangan menjejali mereka dengan terlalu banyak informasi sekaligus. Pecahlah menjadi langkah kecildan kabarkan kepada mereka “tangga-tanggal mulai” jauh-jauh hari.

4| GAYA KOMUNIKASI DIGITAL 

SIFAT-SIFAT UMUM
  • Mengingat dengan langkah-langkah dan urutan-urutan.
  • Mengolahinformasi dengan cara metodis, rasional, dan logis.
  • Sangat berorientasi detail.
  • Memiliki kebutuhan yang kuat untuk memaknai dunia sekeliling mereka.
  • Belajar dengan mengolah hal-hal di dalam pikiran mereka.
  • Membutuhkan waktu untuk memproses informasi baru.
KATA ATAU FRASA YANG SERING DIGUNAKAN
  • Tak diragukan lagi.
  • Kata demi kata.
  • Menggambarkan secara mendetail.
  • Saya akan pikirkan hal ini.
  • Memaknai hal ini.
  • Memusatkan perhatian pada …
  • Saya tahu apa yang kamu maksudkan.
  • Urutan.
  • Perubahan.
  • Awal/akhir.
  • Persepsi.
  • Halo
  • Ya…
  • Sekian dulu.
  • Sampai nanti.
YANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka ahli memecahkan persoalan yang rumit.
  • Mereka ahli strategi yang hebat.
  • Mereka unggul dalam mengurutkan dan menyusun tugas atau proyek.
  • Mereka amat piawai dalam mengolah detail.
  • Mereka amat mahir dalam merencanakan acara.
  • Mereka melihatbagaimana bagian-bagian saling melengkapi untuk menciptakan “gambaran besarnya”.
  • Kesetiaan mereka begitu kuat.
YANG DISUKAI ORANG LAIN DARI MEREKA
  • Mereka lambat memercayai orang baru, hal-hal baru,dan bahkan konsep-konsep baru.
  • Mereka tak suka disela.
  • Mereka bisa menjadi keras kepala dan suka diminta untuk melakukan sesuatu alih-alih disuruh.
  • Mereka tidak membagi-bagikan informas idan harus diminta secara khusus.
YANG MENEYEBABKAN MEREKA STRES ATAU LEPAS KENDALI
  • Ketika jadwal mereka terganggu atau rutinitas mereka dikacaukan, mereka cenderung menjadi kaku dan keras kepala.
  • Ketika keteraturan mereka terganggu, mereka mencoba mengembalikannya sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau perasaan orang lain.
  • Ketika mereka stres, mereka menarik diri dari komunikasi.
  • Mereka bisa stres akan hal-hal yang mungkin terjadi suatu ketika pada masa depan.
CARA MEMBANTU ORANG DIGITAL AGAR KEMBALI TENANG
  • Tanyakan kepada mereka apa yang mereka butuhkan untuk memperbaiki keadaan.
  • Beri mereka waktu sendirian untuk berpikir.
  • Dorong mereka untuk makan, sebab mereka lupa makan jika sangat sibuk dalam tugas.
  • Ingatkan mereka untuk memercayai proses yang sedang berlangsung, dan dorong untuk tak terlalu mengkhawatirkan masa depan. 


Sumber bacaan: 
Michael J. Losier, Law of Connection 
Mengungkap Rahasia Sukses Menjalin Hubungan Pribadi dan Bisnis.
[]

@pakguruobi

Kamis, 17 Juli 2014

Catatan Pak Guru: MOS Hari Keempat


Hari keempat MOS (masa orientasi siswa) ini, anak-anak belajar tentang SED (Susainable Eco Development). Salah satu kurikulum Unggulan Sekolah Pembangunan Jaya yang mengenalkan kepada para siswa agar bisa memelihara serta peduli terhadap lingkungan dengan baik dan berkelanjutan. Beberapa dari mereka membawa pohon buah yang akan di tanam kebun sekolah. 

Mereka diminta untuk bisa merawat tanaman-tanamannya dengan cara menyiraminya tiap pagi. Hal yang sederhana, namun itu mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pohon tak hanya dipandang sebagai pohon semata, mereka diajak untuk menyadari adanya rangkaian semesta yang mengikutinya. Mereka diajak untuk menyadari peranannya di dalam semesta ini. 


 Ahmad Shobirin
Pendidik di SD Pembangunan Jaya 2 Sodoarjo
Twitter @pakguruobi

Jumat, 06 Desember 2013

MENGEMBARAKAN BUKU KE SANGGAR BACA


Beberapa hari lalu saya mengirimkan beberapa buku koleksi untuk sanggar baca. Sebab, sebelumnya, sahabat saya sejak kuliah @Syerly Ade memberitahu saya bahwa ia sedang membuat Sanggar Baca Anak Bangsa (SBAB). Ia ingin membuat tempat baca bagi masyarakat di desanya yakni Ds. Kedungsukodani Rt 10/Rw 03 Kec. Balongbendo Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Ia memohon doa restu karena ia akan memulai perjuangan membuat sanggar tersebut. Upaya yang perlu diberikan apresiasi sebab itu menjadi salah satu cara melanjutkan cita-cita kemerdekaan. Ia saya kenal sebagai sosok yang selalu berjuang. Ia tak mau berhenti dan terus bergerak.

Saya masih ingat, ketika ia pernah mengajak saya untuk menjadi relawan sudut baca Surabaya. Suatu gerakan yang mendukung gerakan masyarakat membaca. Kami bertugas di tempat-tempat umum, seperti terminal dan stasiun. Di mana kami menyediakan rak untuk menyusun buku-buku yang disuplai dari perpustakaan daerah untuk dibaca mereka yang sedang menunggu bis atau kereta. Sekarang saya tidak tahu bagaimana kelanjutan programnya. Itu program bagus, sayang jika ditinggal lalu.

Sekarang, saya lihat di Surabaya, muncul taman bacaan masyarakat (TBM) di kampung-kampung. Tentunya hal itu untuk menggairahkan masyarakat untuk membaca. Masyarakat bergairah adanya hal itu, awalnya. Namun sekarang, buku-buku itu sobek sana-sini, mereka merasa sepi, berdebu dan tak terurus lagi.

Ketika SMA, teman saya di desa yang penggemar buku menggagas pembuatan sanggar baca di Mushollah. Kami ingin anak-anak dan warga  sekitar senang membaca. Para remaja mushollah berkumpul untuk merealisasikan gagasan ini. Kami berhasil mendapatkan banyak buku-buku. Masyarakat membantu untuk membuat rak-raknya. Kami menatanya dengan rapi. Masyarakat senang, anak-anak saling berebut membaca buku. Waktu bergulir, tak ada lagi yang membaca. Buku-buku itu bernasib sama. Kesepian. Hilang.

Apa hal yang sama juga terjadi di perpustakaan umum kota atau daerah?. Mungkin berbeda. Sebab buku-buku itu ada yang merawat. Dan ada anggaran pasti dari pemerintah. Terlepas apakah ramai pengunjungnya atau tidak.   

Apa yang salah dari sanggar baca? Tata kelola, mungkin. Jika tak ada pembaruan atau sirkulasi buku di sanggar baca, maka masyarakat akan bosan. Sebab dengan minimnya koleksi yang dipunyai, saya yakin tak perlu waktu lama bagi masyarakat untuk membacanya. Karena itu saya pikir perlu ada orang-orang yang benar-benar peduli terhadap sanggar baca. Sekedar menggagas tak akan membuat puas, oleh sebab itu perlu mengawas dan jika sudah jadi tidak lantas dilepas. Perlu kontinuitas manajerial dan bekerja dengan ikhlas.

Saya yakin sahabat saya sudah memikirkan hal itu. Rumusan-rumusan apa yang saja yang perlu ia pasti tahu. Ia bukan tipikal orang yang memulai tanpa menyelesaikan. Sahabat saya pasti sudah tahu rumusan ini bahwa “Kekuatan dan kegigihan dalam melangkah lebih diperlukan manakala kita berada di pertengahan perjalanan, bukan hanya di awal. Sehingga, di akhir perjalanan nanti kita kita bisa puas dan tenang.” Ia tahu caranya menyalakan lilin, agar orang-orang tak mengutuk kegelapan. Karena itu, mari membantunya—sanggar baca—untuk mengumpulkan buku-buku.

Mengenai buku-buku dan perpustakaan, aku ingat salah satu renungan Paulo Coelho dalam bukunya “Seperti Sungai yang Mengalir”.

“....saya memutuskan hanya menyimpan empat ratus buku di perpustakaan saya—beberapa karena memiliki nilai kenangan, lain-lainnya karena masih sering saya baca ulang. Saya mengambil keputusan ini karena berbagai alasan, dan salah satunya adalah rasa sedih saya kalau melihat betapa koleksi buku-buku yang dikumpulkan dengan susah payah seumur hidup, sering kali dijual murah begitu saja secara borongan, setelah pemilikya meninggal dunia, tanpa menunjukkan respek sedikitpun pada buku-buku tersebut. Selain itu untuk apa menyimpan buku-buku di rumah? Untuk membuktikan kepada teman-teman saya, betapa berbudayanya saya? Untuk menjadi penghias dinding-dinding? Buku-buku yang saya beli itu akan jauh bermanfaat kalau ditaruh di perpustakaan umum daripada di rumah saya.
Dulu saya suka berkata bahwa saya membutuhkan buku-buku itu, sebab siapa tahu saya butuh informasi di dalamnya. Tetapi sekarang, kalau ingin mencari tahu tentang sesuatu, saya tinggal menyalakan komputer, mengetikkan kata kuncinya, dan semua yang perlu saya ketahui langsung terpampang di layar –berkat internet, perpustakaan terbesar di palnet ini.
Tentu saja saya tetap membeli buku—mereka tidak bisa digantikan oleh versi elektronik apa pun, tetapi begitu saya selesai membacanya, buku itu saya lepaskan; saya berikan kepada seseorang, atau saya sumbangkan keperpustakaan umum. Saya bukan bermaksud menyelamatkan hutan ataupun bermurah hati. Saya sekedar meyakini bahwa sebuah buku mempunyai perjalanannya sendiri, dan tidak seharusnya dikurung dalam rak.
... Marilah kita bebaskan buku-buku itu untuk mengembara, disentuh tangan tangan lain, dan dinikmati mata orang lain.

Saya yakin, pembaca punya beberapa buku yang saya pikir, sudah tak akan dibuka lagi. Karena itu, ada baiknya kita bebaskan mereka untuk mengembara, disentuh oleh tangan yang lain menjelajah pikiran orang lain. Bolehlah sekarang, mari kita alirkan buku-buku itu kepada sanggar-sanggar baca.

Semboyan sahabat saya dalam perjuangan sanggar baca ini adalah, “Apapun yang bisa kita lakukan untuk kebaikan negeri ini mari kita lakukan meski hanya dengan satu buku”

Mari berbagi buku!

[]
*Ahmad Shobirin Obiyoso

Kamis, 14 Maret 2013

(Jangan) Menasehati Siswa


Sebagai Guru, kita tentu sering memberikan nasehat kepada siswa kita. Mereka dengan beragam sikap dan sifatnya, mesti kita hadapi dengan kearifan. Memberikan nasehat-nasehat, tentu saja hal itu merupakan salah satu kearifan. Namun, sering juga nasehat itu hanya didengar seperti angin berlalu. Mudah dilupakan. Lalu bagaimana agar tidak demikian?


Nah, salah satu cara agar apa yang kita nesehatkan menginternalisasi dalam pikiran dan hati adalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu. Seperti misalnya seorang anak berbuat yang tidak baik kepada temannya, kita bisa memberikan pertanyaan terlebih dahulu mengenai "apa yang dilakukannya?", "mengapa melakukannya?". "apakah itu adalah sikap yang terbaik yang dilakukannnya?" dan lain sebagainya. Ajaklah ia duduk, dan berikan pertanyaan dengan tutur kata yang lemah lembut.

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita menuntunnya untuk menemukan kesadaran diri. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa membuat mereka berpikir sendiri tentang baik dan buruknya mengenai apa yang mereka lakukan. Dengan pertanyaan itu, maka mereka mengkonstruk jawaban di dalam kepala mereka, dengan begitu merekalah yang menemukannya sendiri.  Sedangkan jika kita hanya memberikan nasehat kepada mereka tanpa terlebih dahulu memberikan pertanyaan, maka kita memberikan jawaban langsung kepada mereka. Nasehat yang kita berikan hanya berada di luar kepala mereka. Mereka mendapatkan jawaban dari luar mereka, bukan dari dalam dan akan mudah dilupakan. Sebab, mereka tidak menginternalisasi sendiri dari hati dan pikiran mereka.

Semoga kita menjadi Guru yang arif dan bijaksana.


[Ahmad Shobirin/14/03/13]