Salam

Terimakasih atas kesediaanya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Semoga memberi manfaat. Keselamatan, kesejahteraan dan berkah Tuhan semoga senantiasa melingkupi kita semua. Mari menikmati hidup ini...
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

Buku; Obat Anti Penuaan

Pak Bejo, secara hitungan umur, beliau sudah tua. Namun, secara usia beliau seperti seorang pemuda. Tak pernah berhenti belajar. Mencoba hal-hal baru, kadang melukis, memperbaiki sepeda ontel, menyetek tanaman, membuat anyaman, mengaji dengan berbagai referensi lagu, seni beladiri, salto, hingga balet. Beliau juga selalu membawa buku ke mana-mana. Tas kecil yang beliau cangklongkan di pundaknya, minimal berisi satu buku.

Ya, penuaan terjadi pada orang yang kehilangan semangat untuk menjadi lebih baik dan putus hubungan dengan rasa ingin tahunya yang alamiah. Sebagian besar dari kita seperti itu. Selepas sekolah formal, kebanyakan berhenti belajar.

Selama kita belajar sesuatu yang baru setiap hari, melebarkan batas kemampuan pribadi kita, dan memperbaiki cara kita berpikir, kita tidak akan menjadi tua.

Robin Sharma menuliskan pengalaman bertemu Shimon Peres mantan Perdana Menteri Israel di bukunya "The Greatness Guide". Ia mendapatkan kesempatan selama dua jam untuk bercakap-cakap dengannya. Pada saat itu usia Shimon Peres mendekati 82 tahun. Namun, ketika ia bercerita mengenai buku-buku, ide-ide besar, dan pembelajaran, matanya begitu berbinar-binar.

Ketika ditanyai oleh Robin kapankah beliau membaca buku, Ia menjawab, "Robin kapan saya tidak membaca? saya membaca ketika bangun di pagi hari, kapan saja saya bisa selama siang hari, dan setiap malam. Sebagian besar akhir minggu saya habiskan untuk membaca buku. Buku adalah teman tetap saya. Dia lalu menambahkan sambil tersenyum, "Jika Anda makan tiga kali sehari anda akan kenyang namun jika anda membaca tiga kali sehari anda akan bijaksana."

Mungkin sudah lama kita tidak pernah memegang sebuah buku setelah selesai sekolah. Kita terlalu lama kita tak menyelami pemikiran terdalam orang-orang sukses yang telah menapaki planet ini. Terlalu banyak dari kita yang menutup pikiran terhadap wawasan-wawasan baru dan pemikiran yang hebat. Satu ide yang ditemukan dalam satu buku dapat mengubah cara kita melihat dunia. Satu ide yang kita baca dalam satu buku dapat mengubah cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Satu ide yang kita temukan dalam satu buku dapat membantu orang hidup lebih lama atau menjadi lebih bahagia. Pikiran yang telah berkembang karena sesuatu itu baru tak akan pernah kembali ke dimensi aslinya.

Berbahagialah orang tua yang menyediakan buku-buku untuk anak-anaknya di rumah. Berbahagia lah orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah yang mendukung program membaca. Seperti sekolah SD Pembangunan Jaya 2 yang saya mengajar di sana.

Membaca buku-buku karya seseorang yang kita hormati membuat kecerdasan mereka melekat pada kita. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca takkan pernah sama lagi. Mata yang membaca buku akan memandang dunia dengan cara yang baru. Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa buku di tangan anda. Dan ingatlah, obat anti penuaan ada di sana.

Selamat hari buku!

#pakguruobi
#teachernotes
#warkopbuku

Rabu, 02 Desember 2015

Kapan Kita Merasakan Flow?

Suatu kondisi saat kita dapat berkonsentrasi tinggi pada apa yang kita lakukan, sehingga hal lain sama sekali tak berarti, maka saat itu kita merasakan flow. Kondisi yang ditandai dengan hadirnya perasaan yang terlarut secara total pada apa yang kita kerjakan, ada keterpautan, pengayaan batin serta munculnya keterampilan tingkat tinggi dari diri kita. 

Nampaknya, banyak diantara kita yang jarang mengalami flow dalam kehidupan sehari hari. Maka, "kunci untuk bisa mengalami lebih banyak flow dalam kehidupan", kata Daniel Goleman, "di dapat ketika kita menyejajarkan apa yang kita lakukan dengan apa yang kita senangi”. Kita akan mendapatkan prestasi yang lebih besar dalam melakukan apapun jika kita berhasil mengkombinasikan hal tersebut.

Pertanyaan pentingnya: Manakala bangun pagi hari, apakah kita merasa gembira saat pergi bekerja atau melakukan apapun di hari itu yang menjadi rutinitas kita?

Sungguh beruntung jika kita telah menemukan aktifitas yang menjadi hasrat kita, sebab itu akan mendorong kita untuk bisa memasuki flow.  

---

03 Des 2015 | Ahmad Shobirin Obiyoso

Jumat, 16 Oktober 2015

Sudah Menjadi Jodoh

Jika jodoh, pasti bertemu. Seperti kopi ini. dari sekian banyak kopi yang ada di dunia ini, kopi ini yang menjadi jodohku. ia berjodoh juga dengan gula, cangkir, sendok, air, panas api, panci dan juga mbak Tatik yang membuatkan kopi.
Kemudian, kita akan berjodoh pada hal-hal yang lain, selain kopi ini. Apa yang menjadi milik kita, pasti jadi milik kita. Seperti kata pepatah, tak kan lari kopi dikejar. Semua tak dapat dimundurkan, atau dimajukan. Pas.

Selasa, 23 Juni 2015

Memperdaya Ibadah

Seandainya saja ketakwaan seseorang bisa diukur dengan banyaknya buku agama yang dibaca, pengetahuan tentang keagamaan yang dikuasai, mungkin saya bisa termasuk orang yang takwa. Tetapi tidak! Ketakwaan itu masalah amal ibadah. Setinggi apapun pengetahuan agama kita, namun jika nihil amal ibadah, maka akan sia-sia. Baik itu amal individu maupun amal sosial.

Kebanyakan dari  kita menjadi sangat ahli dalam membicarakan tentang kebaikan. Tetapi untuk melakukannya, kita awam. Kalau toh kita bisa beramal, maka itu alhamdulillah. Namun, amal juga bukan sekedar amal. Ia menuntut kemurnian niat hati untuk mendapatkan rida Ilahi.

Dikisahkan, seorang murid dari Manshur ibn Ammar, terbaring sakit. Murid itu dikenal sebagai ahli ibadah, shalat malam, juga gemar bersedekah. Sang guru menjenguknya. Ia mendapati muridnya terbaring di tengah rumah. Wajahnya menghitam, kedua matanya membiru, bibirnya mengeras, dan tidak nampak sebagai orang yang saleh yang biasanya raut mukanya bercahaya.

Manshur berkata,”Saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.” Sang murid membuka mata dan memandang dengan sinis, lalu pingsan. Saat siuman, Manshur berkata lagi, “Wahai saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.” Muridnya kembali memandang dengan sinis, lalu pingsan. Saat dia sadar, Manshur berkata lagi, “wahai saudaraku, perbanyaklah ucapan La Ilaha Illallah.”

Muridnya membuka mata dan berkata, “Wahai saudaraku, Manshur! Aku terhalang untuk mengucapkan kalimat tersebut.”

“Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah. Di manakah puasa, bangun malam, shalat, dan tahajudmu?”

“Semua itu, kulakukan bukan untuk mencari rida Allah, melainkan agar aku disebut orang zuhud, ahli ibadah, atau orang yang saleh. Ketika sendirian, kututup pintu, kuturunkan tabir, kemudian kuminum arak dan melawan Tuhanku dengan kemaksiatan. Aku melakukan hal tersebut hingga sekian lama  hingga terkena penyakit berat dan hampir binasa. Suatu saat aku berkata pada putraku, ‘Tolong ambilkan mushaf!' kuambil mushaf dari tangan anakku dan kubaca huruf-demi huruf hingga surah Yasin. Kemudian mushaf kuangkat sambil mengatakan, ’Ya Allah! Dengan kebenaran al Quran agung ini, sembuhkanlah aku dan aku tidak akan pernah melakukan dosa lagi'. Allah pun menyembuhkanku. Setelah sembuh, ternyata aku melakukan kemaksiatan seperti sedia kala dan tenggelam dalam kelezatan serta riya. Setan telah membuatku lupa akan janjiku terhadap Tuhanku. Hal itu berlangsung beberapa waktu. Tak lama kemudian, aku sakit keras hingga hampir mati. Lantas aku meminta keluargaku membaringkanku di tengah rumah. Mereka menyodorkan al Quran lalu aku membacanya dan mengangkatnya seraya mengatakan, ‘Ya Allah! Demi kehormatan firmanMu yang ada dalam al Quran sembuhkanlah aku.’

“Allah mengabulkan doaku dan menyembuhkanku. Lalu aku kembali terjerumus dalam kesesatan dan godaan hawa nafsu seperti sebelumnya. Ketika jatuh sakit lagi, aku kembali meminta mushaf untuk dibaca, namun tak satu huruf pun bisa ku baca. Aku tahu bahwa Allah telah murka. Aku menengadahkan kepala ke langit sambil berkata, ‘Wahai pencipta langit dan bumi! Demi kehormatan mushaf ini sembuhkanlah aku'. Tiba-tiba aku mendengar suara mengatakan:

Engkau tobat saat jatuh sakit. Namun kembali melakukan kemaksiatan saat sembuh. Saat bahaya menimpamu, engkaupun menangis. Namun saat kuat, engkau menjadi lebih buruk.

Banyak kesulitan yang dibebaskan darimu. Berapa banyak bencana yang telah dihilangkan darimu? Berapa banyak dosa yang ditutupi darimu? Namun sepanjang hari kau mempertontonkannya.

Tidakkah engkau takut ketika kematian tiba,engkau melakukan-melakukan kesalahan? Engkau lupa akan karunia Tuhan yang telah mencurahkan karunia kepadamu. Namun engkau tidak pernah menyesal dan takut.

Tidak sedikit engkau berjanji dan mengingkarinya. Dan engkau pun lupa setiap kebaikan. Susullah sebelum engkau dipindahkan dari tempat tinggalmu. Menuju kuburan yang memanggilmu.

Sang guru keluar meninggalkan muridnya dengan membawa berbagai pelajaran yang memenuhi mata. Ia berkata, “Ya Allah! Anugerahkanlah aku husnul khatimah. Berapa banyak jiwa yang diperdaya, padahal sebelumnya berpuasa dan bangun malam.”

Beberapa hari kemudian, muridnya meninggal dunia. Manshur masih berduka dan memohon kepada Allah agar murindanya mendapatkan limpahan ampunan dan rahmat yang luas.

Kita sering terperdaya atau memperdaya ibadah kita. Bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena sebab lain. Dan itu akan lebih merugikan diri kita sendiri.
--
Ramadhan ke-6
Selasa, 23 Juni 2015
Ahmad Shobirin Obiyoso

Senin, 22 Juni 2015

Menghilangkan Kecemasan

Alasan kuat seseorang mengejar kekayaan adalah untuk menjauhkan diri dari cemasnya kemiskinan. Ketenaran dicari oleh mereka yang menghindari kecemasan diabaikan orang lain. Kita mencari ilmu sebab untuk menghindari rasa cemas akan kebodohan.

Kita bercakap-cakap dan menggunjing orang lain hanya karena kita berpikir bahwa hal itulah yang mampu mengusir rasa cemas terhadap kesendirian dan keterkucilan. Kita makan, minum, berpakaian, bermain, bercinta, tamasya, dan lain-lainya demi menjauhkan diri dari kecemasan.

Lalu kita mengerti bahwa ada jalan yang hakiki untuk menjauhkan diri dari kecemasan. Yakni beribadah kepada Allah. Apapun yang kita lakukan, jika hal itu menyertakan Allah. Maka itu bernilai ibadah. Dan itu menenangkan.

Hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.

~
Catatan Ramadhan ke-5
Senin, 22 Juni 2015
Ahmad Shobirin Obiyoso
~

Jumat, 19 Juni 2015

Berteman dengan Tuhan

Lumayan. Itu penilaian puasa Ramadhan hari kedua. Lebih menjiwai dari pada kemarin.

Kalau iman lemah, hal-hal yang sebenarnya remeh bisa jadi alasan untuk meninggalkan ibadah. Kenapa ndak puasa? Waduh ndak sahur. Kenapa ndak sholat? Pakaianku najis. Dan lain lain.
Padahal ada nikmat yang luar biasa manakala muncul pertumbuhan spiritual.

Siraman air sejuk Tuhan akan mengalir ke hati kita, jika hati merendah. Kita semestinya selalu terhubung dengan Tuhan. Sebab, keterputusan hubungan dengan Tuhan akan membuat hati kita, layu.

Dunia begitu ramai. Pikiran-pikiran kita silih berganti. Hati dihinggapi kecemasan yang selalu datang. Hingga kita mungkin sulit untuk menyediakan ruang suwung agar air sejuk Tuhan masuk. Ruang agar kita bisa duduk tenang diterangi cahayaNya yang menyegarkan hati.

Tuhan selalu menemani.

Dikisahkan, Ibrahim bin Adham gemar menyepi dan menyendiri. Ia ditanya mengapa ia tidak bergaul dengan orang-orang. Mungkin kalau sekarang, mengapa ia tak sempat sekedar ngopi di warkop.

Lalu beliau menjawab, "Kalau aku berteman dengan orang-orang yang ada di bawahku, ia akan menyakitiku dengan kebodohannya. Jika aku berteman dengan orang yang ada di atasku, niscaya ia akan menyakitiku dengan bualannya. Jika aku berteman degan orang yang sepertiku, niscaya ia akan dengki. Karena itu, kutemani Tuhanku. Tidak ada kejemuan jika bersahabat denganNya. Tidak akan terputus jika terhubung denganNya. Tidak akan terasing jika akrab bersamaNya."

~
Jumat 19 Juni 2015
Ramadhan ke-2
Ahmad Shobirin Obiyoso

Kamis, 18 Juni 2015

Berpikir Sederhana

Seringkali kita berpikir rumit. Mengandalkan emosi dan prasangka. Padahal harusnya bisa simpel. Seperti dalam sebuah kisah berikut:

Bersama para pengawalnya--kalau sekarang ajudan atau paspampres--Khalifah Harun al Rasyid meninjau langsung rakyatnya pada malam hari. Khalifah memasuki masjid dan tanpa sengaja, karena suasananya begitu gelap, menabrak orang yang sedang tidur. Orang itu terbangun dan menghardik Khalifah, "Apa kamu gila?!"

"Tidak," jawab Khalifah.

Para pengawalnya hendak memukul orang itu karena berlaku tidak sopan, namun dicegah Khalifah.

"Jangan! Jangan! Dia hanya bertanya apakah saya sedang gila. Dan sudah saya jawab tidak."

#catatanramadhan

Selasa, 19 Mei 2015

Ngopi, Membaca, Menua

Selamat hari buku, oh sudah lewat ya? Lewat mana tadi, kok ndak lihat. Hehe. Ah ndak masalah, anggap saja setiap hari adalah hari buku.

Terimakasih saya sampaikan kepada Warkop Buku​. Sebab ia telah memberikan hadiah buku yang bagus pada saya “The Greatness Guide” karya Robin Sharma.

Saya tertarik dengan buku ini sebab ada endorsment dari Paulo Coelho, salah satu penulis yang saya sukai. Di dalam endorsment itu ia mengatakan bahwa buku-buku Robin Sharma telah menolong orang-orang di seluruh dunia untuk menjalani hidup yang luar biasa.

Saya penasaran. Sembari ditemani kopi, saya membaca buku itu. Dan betul saja. Isinya menyentuh hati dan pikiran saya. Mencerahkan dan mengisnpirasi. Tulisan-tulisannya lembut. Di buku yang berjumlah 258 halaman ini berisi 101 judul tulisan.

Setiap tulisan rata-rata dua halaman saja. Sehingga kita bisa menyediakan sekedar satu menit untuk membaca satu judul tulisan. Kalau ditemani dengan secangkir kopi, mungkin satu tulisan, cukup satu sruputan kopi. Meski tulisannya pendek, namun efek yang ditimbulkan dari membacanya tidaklah pendek. Pikiran menjadi berkembang dan lebih positif. “Pikiran yang telah berkembang karena suatu ide baru”, kata Wandel Holmes yang dikutip Robin “tidak akan kembali ke dimensi aslinya”.

Bagi yang tidak (belum) menyukai membaca, mungkin akan berpikir berkali-kali untuk sekedar beli buku. Padahal harga buku mungkin hanya seharga 2 sampai tiga kali makan siang. Ada baiknya kita kurangi pengeluaran untuk biaya makan, dan kita gunakan untuk membeli buku bagus. Jika tak ada waktu untuk ke toko buku, bisa memilihnya di online shop seperti di Warkop Buku.

Dan tak perlu cemas untuk menginvestasikan uang untuk sebuah buku bagus. Sebab, mendapatkan satu ide dari sebuah buku, akan membawa ke satu tingkat baru dan mengubah cara kita memandang dunia. Buku-buku akan membentuk pemikiran dan nilai filosofi pribadi kita. Kalau kita sudah punya kebiasaan membeli buku dan belum sempat membacanya, kita tak usah merasa resah, bersalah, atau sia-sia. Toh kita sudah membangun perpustakaan kita. Dan itu sesuatu yang indah bukan?

Membaca buku karya seseorang yang kita hormati, berarti kita berdialog dengannya. Seakan-akan dia hadir di samping kita. Apalagi lagi dengan ngopi, seakan ngopi bersama. Tentu hal itu akan membuat kecerdasan dan kebijaksanaan mereka melekat pada kita. Mata yang digunakan mebaca buku yang bagus, tidaklah menjadi mata yang sama ketika ia memandang dunia. Tangan yang meletakkan buku bagus yang telah selesai dibaca, tidak akan pernah sama lagi.

Dalam tulisan yang lain “Belajar atau Menua” ia bercerita pernah mendapatkan kesempatan bercakap-cakap dengan Shimon Peres, mantan perdana menteri Israel dan pemenangNobel Perdamaian. Robin bercerita mata Simon Peres berbinar-binar ketika ia berbicara mengenai buku, ide-ide besar dan pembelajaran. “Mr. Peres, kapan anda membaca” tanya Robin dan dijawab “Robin, kapan saya tidak membaca? Saya membaca ketika bangun di pagi hari, kapan saja saya bisa selama siang hari, dan setiap malam. Sebagian akhir minggu saya habiskan untuk membaca buku. Buku adalah teman tetap saya. Jika Anda makan tiga kali sehari, Anda akan kenyang. Namun jika anda membaca tiga kali sehari, Anda akan bijaksana.”

Membaca adalah salah satu obat anti penuaan, sebab ia sarana yang asik dalam belajar. Sepanjang kita belajar sesuatu setiap hari, melebarkan batas kemampuan kita, dan memperbaiki cara berpikir kita, kita tidak akan menjadi tua. Penuaan itu terjadi pada orang yang kehilangan semangat untuk menjadi lebih baik dan putus hubungan dengan rasa tahu yang alamiah. Satu ide yang kita temukan dalam buku dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia, mengubah cara kita berkomunikasi dengan orang lain serta dapat membantu kita hidup lebih lama dan bahagia.

Semoga tak terjadi bahwa orang tak lagi memegang buku untuk dibaca setelah selesai sekolah. Dan juga tak berharap bahwa banyak orang yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton TV dan ber hahahihi tanpa arti di media sosial dari pada menyelami pemikiran terdalam orang-orang sukses yang telah menapaki bumi ini. Semoga kita tak menutup pikiran terhadap wawasan-wawasan baru dan pemikiran-pemikiran yang hebat.

Dan ketika keluar dari rumah, jangan lupa membawa bekal buku.

Mari ngopi, membaca, agar tak menua sia-sia.

@pakguruobi

Sabtu, 18 April 2015

Memindahkan Beban Hati

Syahdan, seorang wali yang mengetahui bahasa hewan menanyai seekor unta apakah ia lebih menyukai menaiki bukit atau menuruninya. Unta itu menjawab, "Yang terpenting bagiku bukanlah menaiki bukit atau menuruninya, melainkan bebannya!"

Pun begitu dengan kita, keterikatan dengan pernak pernik kehidupanlah yang seringkali melelahkan perjalanan hidup kita.

Berhenti, dan heninglah. Lalu rasakan Tuhan memindahkan beban-beban hatimu.

Kamis, 26 Maret 2015

#Tangi: Syukuri(n)!

Agama agama besar Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Sikh dan Hindu semuanya mengajarkan tentang syukur.

Muhammad pernah bersabda bahwa bersyukur atas kelimpahan yang telah anda terima adalah jaminan terbaik bahwa kelimpahan akan berlanjut.

Buddha mengatakan bahwa tidak ada perjuangan yang perlu anda lakukan kecuali untuk bersyukur dan bergembira.

Yesus mengucapkan terima kasih sebelumnya ia melakukan setiap mukjizat.

Raja daud berterima kasih kepada seluruh dunia atas segala sesuatu di antara langit dan bumi.

Lao Tzu mengatakan bahwa jika anda bergembira dengan apa yang ada seluruh dunia akan menjadi milik anda.

Krisna mengatakan bahwa apapun yang ia persembahkan ia terima dengan gembira.

Syukur itu ajaib dia bisa menjadikan sesuatu menyenangkan dan penuh makna terlepas dari apapun keadaannya saat ini syukur itu menjadikan hidup kita lebih kaya, makmur, sentosa, pribadi bangsaku ayo maju maju ayo maju maju ayo maju maju. (hehe)

Syukur akan meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan level yang lebih tinggi daripada yang pernah kita rasakan sebelumnya.

Ketika kita mempraktikkan syukur kita akan mengerti mengapa hal hal tertentu di dalam hidup kita tidak berjalan sesuai harapan kita dan mengapa hal hal tertentu tidak ada dalam hidup kita. Ketika kita menjadikan syukur sebagai cara hidup setiap pagi, kita akan bangun dengan sangat gembira karena masih hidup.  Kita akan mendapati diri jatuh cinta pada hidup segala sesuatu akan tampak mudah dan akan merasa seringan yang dulu dan lebih bahagia dibandingkan yang pernah kita rasakan sebelumnya. Ketika tantangan datang, kita akan tahu cara mengatasinya dan belajar setiap hari akan terasa ajaib setiap hari akan dipenuhi jauh lebih banyak keajaiban.

Wis pokoke alhamdulillah...

@pakguruobi

Sabtu, 21 Maret 2015

Sepi, tapi Tak Kesepian

Pernah kesepian? Ah kasihan sekali. Karena itu, sengajalah menyepikan diri. Nyepi. Ia bentuk kata kerja aktif. Yang bisa berarti meninggalkan keramaian. Dan karena ditinggal, keramaian menjadi merasa kesepian. Kasihan keramaian. Sebaliknya, jika kau kesepian, kamu bersikap pasif. Keramaian meninggalkanmu. Itu ndak keren. Kita tahu rasanya sakitnya di abaikan. Di sini kan sakitnya??! (jangan lupa tunjuk dada)

“Kesepian mengungkapkan kepedihan hati karena kesendirian”, Kata Paul Tillich “Dan menyendiri mengungkapkan kesenangan kesendirian kita”

Mungkin saat ini kita masih merasa muda. Sehingga jarang dihinggapi kesepian. Namun, kata orang-orang, bahwa nanti semasa tua, kita akan akrab dengan kesepian itu. karena itu, kita harus punya cara agar tak kesepian. Aku ingat sebuah kisah Paulo Coelho di bukunya “Seperti Sungai yang Mengalir”.

Ada perempuan tua berdiri di area untuk pejalan kaki di Avanida Atlantica Copacabana (tentu saya belum pernah ke sana). Ia membawa sebuah gitar dan ajakan yang ditulis tangan “Mari bernyanyi bersama-sama.” 

Dia mulai memetik gitarnya sendirian, kemudian datanglah seorang pemabuk, dan seorang perempuan lainnya, lalu kedua orang itu mulai menyanyi bersama. Tak lama kemudian, sejumlah orang ikut bernyayi, dan sekelompok kecil orang-orang lainnya menjadi penonton. Mereka yang menonton bertepuk tangan setiap kali sebuah lagu selesai dinyanyikan.

“Kenapa Anda melakukan ini?” tanya Paulo pada perempuan itu ketika jeda di antara dua lagu.

“Supaya tidak sendirian,” Jawabnya. “Hidup saya sangat sepi, seperti yang dialami hampir semua orang yang sudah tua.” Lanjutnya. 

“Seandainya saja setiap orang menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cara seperti  ini” Pikir Paulo.

Maka, jika kau kesepian, saran saya, berdirilah di tengah perempatan jalan raya, lalu bernyanyi-nyanyilah. Yakin! kau tak kan kesepian.   

| @pakguruobi

Kamis, 19 Maret 2015

#Tandur: Bertemu Orang Sulit

Malam ini sebelum bobo' kita ngomongin satu hal dulu ya... Yakni orang sulit. Semoga ndak sulit.

Gini, selagi masih di dunia, kita selalu saja akan menemui orang sulit. Orang sulit itu orang yang nggak mau mudah. Tentunya. Ia sukanya menyulitkan diri, juga orang lain.

Tapi kalau dipikir-pikir, sudahlah. Gak usah sulit-sulit cari atau meladeni orang yang sulit. Nanti malah kita nanti jadi kesulitan. Lalu, jadi makin sulit hidup kita.

Tapi sulitnya, kita selalu menemui orang sulit itu. Lha wong orang sulit itu kita sendiri kok. Haha.

Mudah kan bertemu orang sulit itu?!

Doain aja biar ndak sulit. Sekarang bobo sana. Ndak sulit kan?

| @pakguruobi

Rabu, 18 Maret 2015

#Tandur: Tentang Buku dan Tujuan Hidup

Ini sebagai upaya menulis sebelum tidur. Saya menamakannya #Tandur, catatan menjelang tidur. Berefleksi. Biar nampak keren. Ah tidak, niatnya harus lebih baik. Biar ganteng saja. Haha.  

Ini semacam pikiran-pikiran yang melintas sebelum tidur. Jadi maklumi jika bisa membahas apa saja, atau bahkan tak membahas apapun. Tapi saya sungguh tak berharap ini menjadi “sampah”, semoga ada hikmah.

Tentang buku-buku.

Buku-buku menjadi guru-guruku. Dengan usia yang semakin bertambah, semakin sedikit untuk bertemu dengan majelis-majelis ilmu, sudah ndak sekolah atau kuliah lagi, maka membaca buku adalah salah satu solusi untuk terus belajar. Menyadari bahwa diri ini masih jauh dari kepandaian atau kebijaksanaan.

Betapa besar amal para penulis-penulis buku itu. Penerbitnya, editornya, penjualnya, atau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mereka mempunyai amal yang tak terhingga. Aku menyebut buku-buku itu sebagai guru-guruku.

Sudah berguru? Sudah baca buku? Tuh ada Warkop Buku Obi di FB. Coba dah pesan sana. Kali-kali aja cocok bukunya. Hehe.

Tentang Tujuan hidup.

Sang guru berkata tentang makna atau tujuan hidup. Kalau kita ditanyai tentang apa tujuan hidup kita, mungkin jawaban yang kita berikan tidak secepat menjawab pertanyaan matematis (dengan catatan anda pintar matermatika). Sebab memperoleh jawaban dari pertanyaan ini bukanlah hal yang mudah. Seperti yang dikatakan oleh guruku bahwa sebenarnya, memahami tujuan hidup adalah proses yang sangat pelan dan mengasyikkan. Kita bisa merasakan misterinya sambil merenungkan keberadaan kita, umat manusia, dan juga alam. Dan karenanya, konsep tentang hidup juga berkembang secara bertahap sepanjang hidup.

Tujuan hidup kerapkali dikacaukan atau disamarkan dengan hal hal-hal yang yang bersifat materi duniawi. Kita anggap hal itu adalah yang mampu membuat kita bahagia seutuhnya. Namun, kita kemudian menemukan bahwa kebahagiaan bukan berasal dari sumber-sumber eksternal yang bersifat sementara. Kebahagiaan sejati berasal dari dalam. Semakin dalam, sejalan hubungan kita dengan Tuhan.

Lalu saya ingat kutipan moto hidup seorang ulama Dr. Wahbah az Zuhaili ”Inna-sirra an-najah fi al-hayah ihsan ash-shilah billah ‘azza wa jalla” (Sesungguhnya, rahasia kesuksesan dalam hidup adalah membaikkan hubungan dengan Allah ‘azza wa jalla)

Bagaimana hubunganku dengan Tuhan? Ah, belum baik. Jarang komunikasi. Hubungan yang baik biasanya ditandai dengan komunikasi yang baik. Kamunikasi dengan Tuhan itu, melalui Dzikir. Kupikir-pikir, aku jarang berdzikir. Seharusnya aku mikir, kalau itu merusah hubungan baik. Moga Tuhan tetep maafin aku yang udah banyak salah. Amin…

Ilahi, anta maqsudi waridloka mathlubi.Tuhan, hanya Engkaulah yang kumaksud dan ridaMu yang kuharap. Toh kita juga sering mengucapkan inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. Tapi yang kita lakukan bukan lillahi ta’ala. Aduh. Ampuni lagi Tuhan…

Amin…

| Ahmad Shobirin Obiyoso | @pakguruobi

Selasa, 17 Maret 2015

HADIAH HARI INI

Hari ini Anin, murid saya meminjamkan dua bukunya. Karangan Arvan Pradiansyah dan Mark Sanbron. menyenangkan membacanya.

Arvan menulis buku tentang menikmati hidup yang indah setiap saat. Melihat murid-murid yang tersenyum, tertawa, bermain-main dengan temannya, tentu itu sebuah kenikmatan. Dan karenanya rasa syukur harus selalalu tercurah pada Tuhan.

Ada pula kopi di meja yang siap sedia diangkut untuk didekatkan dalam mulut. itu juga bentuk kenikmatan.

Masih banyak kenikmatan yang lain hari ini.

Hari ini adalah hadiah untuk kita, sebab kemarin sudah menjadi sejarah dan besok masih menjadi hal yang gaib.

Enjoy your life

Minggu, 01 Februari 2015

Mereka Memaksaku!

Saya mengikuti program ODOJ (one day one juz) dan GIS (gerakan ihyaus sunnah). Tiap hari harus laporan. Laporannya melalui grup WhatsApp. Awalnya semangat. Lama kelamaan mengendur. Dan itu membuat saya malu. Malu pada komunitas. Namun saya seharusnya lebih malu sama Allah.
Kebaikan harus diupayakan terus menerus. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Paksa diri untuk berbuat yang baik.

Berbuat baik itu nikmat. Dan membuat bahagia.

Yang penting istiqomah, meski sedikit.

Yuk paksa diri berbuat baik, biar jadi kebiasaan dan akhlak kita. Stephen Covey mengatakan bahwa kebiasaan yang dilakukan secara rutin akan membentuk suatu memori tetap di otak sehingga memasuki alam bawah sadar.

Sabtu, 01 November 2014

Kisah Di Warkop Buku (1)

Mbah Bejo datang. Ia mengunjungi Warkop Buku. Warkop baru. Tempat untuk singgah minum kopi, duduk dan membaca buku, atau menulis.

Aku menghentikan aktifitasku, berdiri, tersenyum dan salaman dengan mencium punggung tangannya. Beliau cepat menarik tangannya dan segera duduk dihadapanku.

“Sedang apa kamu?”

“Ini, lagi nulis-nulis mbah?”

“Apa yang kamu tulis?”

"..........”

Aku terdiam. Beliau juga diam sebentar lalu berkata berkata tanpa memandangku, “Betapa sia-sianya duduk menulis bila kamu belum pernah berdiri untuk hidup”

Jleb.

Aku pesankan kopi susu tanpa gula kesukaannya. Dengan maksud beliau tak banyak bicara. Sebab jika berhadapan dengan mbah ini, aku sering mati kata.

Kamis, 17 Juli 2014

Catatan Pak Guru: MOS Hari Keempat


Hari keempat MOS (masa orientasi siswa) ini, anak-anak belajar tentang SED (Susainable Eco Development). Salah satu kurikulum Unggulan Sekolah Pembangunan Jaya yang mengenalkan kepada para siswa agar bisa memelihara serta peduli terhadap lingkungan dengan baik dan berkelanjutan. Beberapa dari mereka membawa pohon buah yang akan di tanam kebun sekolah. 

Mereka diminta untuk bisa merawat tanaman-tanamannya dengan cara menyiraminya tiap pagi. Hal yang sederhana, namun itu mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pohon tak hanya dipandang sebagai pohon semata, mereka diajak untuk menyadari adanya rangkaian semesta yang mengikutinya. Mereka diajak untuk menyadari peranannya di dalam semesta ini. 


 Ahmad Shobirin
Pendidik di SD Pembangunan Jaya 2 Sodoarjo
Twitter @pakguruobi

Rabu, 09 Juli 2014

Tentang Kekalahan


Rabu, 9 Juli 2014. Seusai terawih di warung kopi pasar Siwalankerto Surabaya.

--
Hari ini libur, ada pemilu. Dua pasang calon presiden dan wakil presiden. Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Kasmin memilih golput. Begitu juga Bejo, mereka ndak ndak ikut memilih diantara kedua calon. Kalau Kasmin disebabkan ketidakpedulian. Tetapi Bejo lebih kepada pemikirannya tentang adanya kesalahan dalam konstitusi negara mengenai pemilu ini. 

“Walah gayamu Jo, omongmu kayak pengamat hukum tata negara, wong kamu tata keluarga aja belum bisa, kok ngomongin tata negara”. Ujar Kasmin ketika mendengar alasan bejo ndak ikut nyoblos.

“Lho sekarang coba sampeyan pikir, katanya presiden dipilih langsung oleh rakyat, tapi nyatanya tidak, kalau saya milih langsung saya pasti milih sampeyan cak?”

“Omonganmu!”

“Calon-calon yang ada itukan sebenarnya dipilih partai, lalu secara terpaksa rakyat mau ndak mau harus memilih apa yang telah dipilihkan partai kan? Lha gitu kok katanya pilihan rakyat langsung!”

“Wis Jo, kalau ndak ada pilihanmu yo ndak usah milih.”

“Lho wong kalau ndak milih diharamin oleh MUI gitu.”

“Yo kudu diharamin dong, kamu harus tahu posisi MUI di negeri ini gimana? masak fatwanya ndak mendukung program pemerintah. Bisa di bubarin mereka.”

“Tapi, coba lihat tuh, meski kita ndak milih, pemilunya masih tetap berjalan kan. Lancar dan aman.”

“Lancar gimana? Wong saling mengklaim menang gitu”

“Biarin! biar gelut sekalian!”

“Jangan jadi provokator gitu Jo, kalau gelut beneran gimana?”

“Ah ndak mungkin gelut, wong rakyat ikut-ikut nyoblos itu cuman iseng-iseng kok, ndak serius.”

“Ah kamu itu, ini menentukan masa depan Indonesia kok iseng. Sudah jangan rame wae Jo, nanti malam megang siapa?”

“Tetep Amerika latin Min, Argentina!”

“Haha, yakin tah? pur-puran apa lek-lekan”

“Lek-lekan bos! Kenapa ndak berani tah?”

“Wis ayo, ndang! masang berapa?”

--

Karena teknologi, dengan cepat sudah ketahuan siapa yang terpilih. Meski dua-duanya mengaku menang. Yang pasti nanti salah satu diantaranya yang jadi presiden. Bukan keduanya. Takdir tetap berjalan. Pasti ada yang merasa menang atau dimenangkan, dan ada yang merasa kalah atau dikalahkan.  

Namun apakah kemenangan dan kekalahan itu? Saya mendapati tulisan yang bagus mengenai hal ini dalam buku “Manuskrip yang Ditemukan di Accra” karya Paulo Coelho.

Dikisahkan dalam buku itu ada seorang yang disebut Guru. Ditengah kekacauan kota Yerussalem beberapa orang memilih berkumpul didekat sang Guru untuk mendengarkan petuah-petuahnya. Salah seorang dari mereka menanyakan tentang kekalahan. Dan  sang Guru menjawab:

***
Apakah daun yang gugur dari pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?

Kata pohon kepada daun, “Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku. Berkatmu aku bisa bernapas dan hidup. Berkat dirimu pula kau merasa dicintai, sebab aku dapat memberikan naungan kepada pengelanan yang kelelahan. Getahmu da di dalam getahku; kita berdua satu.”

Apakah orang yang bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk mendaki gunung tertinggi di dunia merasa terkalahkan apabila, setelah mencapai gunung itu, dia mendapati puncaknya terselubung awan-awan badai? Katanya kepadagunug itu, “Kau tidak menginginkan diriku kali ini, tapi cuacaini pasti berlalu, dan suatu hari nanti aku akan sampai ke puncakmu. Untuk sementara kau akan tetap di sini, menungguku.”

Dalam siklus alam tak ada kemenangan maupun kekalahan: yang ada hanyalah pergerakan.

Musim dingin berusaha keras mempertahankan kekuasaan, namun akhirnya harus tunduk dalam musim semi dan membawa bebungaan dan kebahagiaan.

Musim panas ingin hari-harinya yang hangat tak pernah berakhir, sebab ia percaya bahwa kehangatannya baik bagi Bumi, akan tetapi pada akhirnya dia harus menerima kedatangan musim gugur yang akan memberikan istirahat bagi Bumi.

Rusa-rusa memakan rumput dan dimangsa oleh singa. Ini bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan beginilah cara Tuhan menunjukkan siklus kematian dan kebangkitan kembali pada kita.

Dan dalam siklus itu tak ada yang menang maupun yang kalah; yang ada hanyalah tahap-tahap yang mesti dijalani. Setelah hati manusia memahaminya, dia pun bebas san sanggup menerima masa-masa sulit dan tidak akan terlena oleh saat-saat penuh kemenangan.

Sebab keduanya akan berlalu.Yang satu menyusul yang lain. Dan siklus ini akan terus berlanjut sampai kita membebaskan diri dari yang badaniah serta menemukan Energi Ilahi.

Oleh sebab itu, ketika sang petarung berada di arena—entah atas pilihannya sendiri atau karena tangan-tangan nasib yang tak terselami menempatkannya di sana—kiranya rohnya dipenuhi suka cita dalam menghadapi pertarungan yang telah menunggu. Bila ia berpegang pada harga diri dan kehormatannya, walaupun ia menjadi pihak yang kalah dalam pertarungan itu, namun dia takkan pernah terkalahkan, sebab jiwanya tetap utuh.

Dan dia takkan menyalahkan siapa pun atas hal yang menimpanya. Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri.

Hanya mereka yang gagal mengenali kekuatannya sendiri akan berkata, “Aku kalah”, dan diliputi kesedihan.

Lain-lainnya akan meneteskan air mata sekedarnya namun tak pernah menyerah dan mengasihani diri. 

Mereka tahu, ini hanyalah jeda dalam pertempuran, dan untuk saat ini situasi mereka tidak menguntungkan.

Mereka mendengarkan detak jantung sendiri. Mereka menyadari rasa tegang dan takut itu. Mereka merenungkan hidup mereka dan mendapati bahwa, meski mereka gentar, jiwa mereka masih menyimpan keyakiann yang memacu mereka untuk jalan terus.

Mereka mencoba menelaah apa yang benar dan apa yang salah dalam tindakan mereka. Mereka memanfaatkan momen kekalahan ini untuk beristirahat, menyembuhkan luka-luka, merancang strategi-strategi baru, dan membuat persiapan lebih baik.

Bersabar menunggu saat yang tepat untuk bertindak.

Jangan biarkan kesempatan berikutnya lewat begitu saja.

Banggalah atas bekas-bekas lukamu. Bekas-bekas luka itu berbicara lebih lantang katimbang pedang yang menyebabkan.

--

Dalam kehidupan Kasmin dan Bejo pun pernah merasa kalah maupun menang. Seperti tadi malam, Kasmin menang terhadap Bejo yang menjagokan Brazil. Bejo ndak menyerah, ia mencoba lagi bertaruh mendukung Argentina dibanding Belanda. Entah siapa nanti yang menang.

“Kasmin, Bejo, ingat, taruhan itu haram.”
  
Kalau saya sih, Belanda.      

[]

Ahmad Shobirin|9 Juli 2014